#iniruangkuHeadLine

Merebaknya Covid 19, Objek Wisata Grafika Cikole Kehilangan Pendapatan Hingga 1 Miliar

Mediatataruang- Pasca merebaknya Coronavirus Disease (Covid-19), objek wisata Terminal Wisata Grafika Cikole  (TWGC) Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ditutup sementara. Penutupan dilakukan untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Imbas virus tersebut sangat terasa bagi bagi TWGC, selama seminggu pihaknya mengalami kehilangan pendapatan hingga Rp 1 miliar.

“Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan penutupan selama 2 minggu sebagai antisipasi Covid-19. Dan melihat lesunya kondisi kunjungan wisatawan,” kata General Manajer Grafika Cikole, Sapto Wahyudi, saat ditemui di TWGC, Selasa (17/3/2020).

Ia mengungkapkan, imbas virus tersebut sangat terasa bagi bagi TWGC. Hanya dalam waktu satu minggu, sekitar 7.000 ribu tamu melakukan konfirmasi pembatalan kunjungan. Pengunjung tersebut yang dijadwalkan akan melaksanakan outbond dan sekadar istirahat makan siang.

“Estimasinya itu 1.000 tamu perhari melakukan pembatalan, hanya dari outbond dan yang sudah reservasi untuk makan saja. Belum ditambah yang menginap. Dari 49 kamar, semua kosong, sekarang jumlahnya masih kami inventarisir,” bebernya.

Namun pihaknya masih melayani rombongan yang ngotot melanjutkan jadwal kunjungan, namun hanya yang sebatas melakukan outbond dan makan. Dari sekitar 1.000 tamu per hari yang membatalkan, ada beberapa yang tidak bisa ditunda.

“Karena mereka datang dari luar kota. Jadi kami tetap layani, tetapi dengan SOP, seperti pengecekan suhu tubuh dan menggunakan hand sanitizer,” katanya.

Saat ini hanya 30 persen, dari total 180 karyawan karyawan yang masih bekerja melayani kunjungan tersisa. Sedangkan sisanya sudah diberikan cuti selama dua pekan dengan intervensi.

“Hanya 50 orang yang masih masuk, karena ada sisa kunjungan. Tapi setelah kunjungan selesai, lalu bersih-bersih, mereka kita pulangkan. Kami intervensi mereka jangan sampai keluar rumah dan keluyuran, karena ini bukan cuti umum, tapi karena urgensi wabah,” bebernya.

Berbicara soal profit, Sapto mengungkapkan selama seminggu pihaknya mengalami kehilangan pendapatan hingga Rp 1 miliar. “Ya bisa sampai Rp 1 miliar kehilangan pendapatan akibat penutupan ini. Tapi kita enggak mau ambil resiko dan menekan operasional juga, karena memang pasar sudah sangat lesu. Dibanding dengan erupsi Gunung Tangkuban Parahu, ini jauh lebih parah,” tandasnya.

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close