HeadLineKajian

Antara Ruang Kota Dengan Warga Yang Menghuni

Menggugat Eksistensi Planologi #3

Mediatataruang.com– Membangun prasarana dan sarana fisik sama sekali bukan hal yang sulit. Sepanjang anggaran untuk membiayainya tersedia. Sebab, ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, telah berkembang begitu pesat. Untuk mengatasi berbagai kendala maupun keterbatasan yang mungkin dihadapi pembangunan yang ingin dilakukan.

Persoalan yang paling rumit justru dalam membangun budaya, mengisi jiwa, memelihara gairah, serta mengembangkan cinta dan rasa memiliki mereka yang hidup dan beraktivitas di sana.

Kota sejatinya pilihan sejumlah manusia. Mereka yang dengan sadar memutuskan tinggal di sana. Terlepas alasan peluang maupun kesempatan ekonomi yang melatar belakanginya. Atau ikatan emosional terkait kekerabatan yang sudah turun-temurun berada di kota itu.

Bisa juga sebagai pilihan terbaik untuk membina keluarga dan membesarkan anak-anak. Mungkin pula soal kesesuian selera dengan lingkungan dan masyarakat kota tersebut. Misalnya terkait kenyamanan pribadi yang selaras dengan keinginan, cita-cita, atau hal-hal yang bersifat subyektif lainnya.

Apapun alasannya, keputusan seseorang untuk bermukim di suatu kota adalah hal yang luar biasa sekaligus istimewa.

Jadi tantangan planologi adalah bagaimana agar setiap manusia yang memilih bermukim dan hidup di suatu kota, mensyukuri, menghargai, menghormati, mencintai, berterima kasih, bangga, dan merasa memiliki kotanya.

Maksudnya, mereka tak hanya menumpang hidup di sana. Sekedar mengeksploitasi keuntungan ekonomi. Lalu membawa hasilnya ke daerah lain. Meninggalkan tanggungan beban yang lebih besar dibanding manfaat yang dinikmati kota tersebut.

Planologi harus merumuskan ‘new normal’ penataan ruang yang mampu menjawab seluruh persoalan di atas.

Hal itulah intisari dari gugatan terhadap eksistensi ilmu pengetahuan dan profesi yang saya maksud. Pandemi akibat SARS-CoV-2 saat ini dikenal sebagai COVID-19 (corona virus disease) telah mengingatkan.

Pertama, bagaimana keberadaan suatu kota sesungguhnya bukan merupakan tanggung jawab kolektif warga yang menghuninya.

Kedua, sebagai tempat pemukiman warga yang ‘telah’ membangun, memelihara dan mengembangkannya, kota-kota kita ternyata tak berdaya melindungi dan memberi ketentraman mereka yang menghuni di sana.

COVID-19 secara gamblang membuktikan, rumusan hak-kewajiban maupun tugas-tanggung jawab yang lemah sekaligus rapuh, antara ruang kota dengan warga yang menghuni. Begitu pula sebaliknya. (bersambung) (Sumber : Mardhani, Jilal)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close