#iniruangkuHeadLine

Jangan Tutup Mata, Ini Dampak Pembuangan Tailing di Sungai dan Laut Bagi Lingkungan

Mediatataruang.com– Akhir akhir ini mulai ramai lagi pemberitaan terkait pembuangan Tailing di Maluku Utara, sampai beberapa elemen masyarakat melakukan protes keras.

Pembuangan sisa-sisa hasil tambang (limbah tailing) merupakan tantangan terbesar yang dihadapi industri pertambangan global. Bahkan hal ini menjadi sebuah tantangan yang gagal diatasi, terbukti sewaktu bencana kebocoran penampungan limbah terjadi dimana-mana, sementara itu masalah endemik masih jauh teratasi.

Krisis ini merupakan akibat langsung dari strategi perusahaan-perusahaan tambang untuk memangkas biaya, karena keuntungan merosot atau berfluktuasi, tekanan persaingan dan anjloknya harga sejumlah pasar logam.

Beberap perusahaan tambang melakukan strategi menghadapi kondisi tersebut diatas dengan cara:

  1. Ekspansi geografis

Dengan cara membuat investasi baru untuk eksplorasi dan eksploitasi potensi kandungan tambang di kawasan yang relatif belum digarap di zona tropik yang didalamnya bisa jadi mencakup kawasan yang dilindungi atau tidak/belum diperuntukkan untuk pertambangan.

  • Politis

Dengan jalan meningkatkan akses perusahaan kepada kandungan- kandungan tambang, karena kontrol negara terhadap kandungan tersebut merosot dan hak-hak pemilik tanah/masyarakat adat diabaikan

  • Pemangkasan biaya melalui teknologi

Penambangan dengan cara penggalian terbuka dan pengerukan daripada menggunakan teknik-teknik pengerukan bawah tanah, meningkatnya praktik pengerukan dengan menggunakan larutan, cara-cara pembuangan limbah yang lebih murah.

Perlu diketahui, Tailing dipahami sebagai limbah batuan/tanah halus sisa pengerusan dan pemisahan (estraksi) mineral yang berharga (tembaga, emas, perak) dengan bahan tambang. Dari berbagai sumber, Tailing mempunyai ciri yang terdiri dari 50% praksi pasir halus dengan diameter sekitar 0,075 – 0,4 mm dan 50 % terdiri dari praksi lempung dengan diameter kurang dari 0,075 mm.

Tailing berupa bahan tambang baik itu batuan, pasir maupun tanah setelah digali dan dikeruk, lalu estrak bumi (mineral berbahaya) yang persentasenya sangat kecil dipisahkan lewat proses pengerusan, bahan tambang yang begitu banyak disirami dengan zat-zat kimia (cianida, mercury, Arsenik dll) lalu bijih emas tembaga atau perak disaring oleh Carbon Filter, proses pemisahan dan penyaringan mineral ini menyisakan lumpur dan air cucian bahan tambang yang disebut tailing, mineral berharga diambil sedangkan tailing akan terbawa bersama zat-zat kimia yang mengandung logam berat/beracun.

Tailing dalam senyawa kimianya mengandung beberapa sifat seperti: klorida; perak; arsen; alumunium; besi; merkuri; magnesium; nikel; seng; natrium; dll.

Sifat kimia ini selain tercampur pada proses pencucian dan pemisahan mineral berharga dengan bahan tambang, tapi juga zat-zat kimia ini berasal dari batuan alami dengan senyawa kimia dari luar, tentunya hal ini akan meningkatkan konsentrasi senyawa logam berbahaya.

Dampak negatif dari pembangunan khususnya kerusakan lingkungan pada sector sungai, pesisir dan kelautan akan semakin panjang daftarnya. Ini terkait dengan adanya ancaman kerusakan lingkungan berupa pembuangan Tailing ke sungai ataupun kelepas pantai atau kedasar laut (Submarine Tailing Disposal) akan mengubur kehidupan bawah laut dan hal ini jelas merupakan ancaman serius bagi kelestarian sumberdaya hayati sungai, laut dan pesisir.

Dampak penting lainnya akibat limbah-limbah diatas pada tahap operasi meliputi:

  1. Perubahan iklim mikro pada tapak tambang terbuka, tempat penimbunan limbah batuan dan tapak pabrik pengolahan.
  2. Menurunnya kwalitas air sungai
  3. Paras air yang lebih rendah di daerah sekitar tambang terbuka dengan akibat menurunnya debit mata air.
  4. Kemungkinan menurunnya kualitas air tanah disekitar tempat penimbunan limbah batuan.
  5. Tertimbunnya habitat-habitat pada sungai dan laut dimana limbah batuan akan ditempatkan.
  6. Menurunnya kualitas habitat- habitat sungai pada daerah aliran sungai dan laut yang sebagian diimbangi dengan terciptanya habitat baru.
  7. Menurunnya kualitas udara diakibatkan oleh emesi SO2, dan juga diakibatkan karena debu yang dihasilkan oleh tambang dan sepanjang jalan-jalan proyek.

Pembuangan tailing akan selalu mengandung resiko yang besar bagi lingkungan, pembuangan didaratpun bila tempatnya tidak tepat dan aman, senyawa kimia/logam berat berbahaya yang dikandungnya bisa menjalar dan berproses sejauh 10 – 20 mil, bahkan bisa terbawa hingga kelaut, apalagi dibuang secara langsung kelaut tentunya logam berat berbahaya ini akan terurai lebih bebas.

Ada beberapa dampak negatif yang sangat besar bila tailing di buang kelaut, antara lain.

  1. Pembuangan tailing kelaut dapat mengakibatkan penurunan kwalitas air laut, meningkatnya kekeruhan dapat menyebabkan gangguan pada biodata laut dan menghambat penetrasi cahaya matahari kebawah perairan laut. Biota bentik (benthos) yang habitanya berada di dasar perairan akan terkubur dan mengakibatkan kematian masal, peningkatan kekeruhan dan padat tersuspensi akan menyebabkan tertutup / hilangnya organ makanan benthos. Ikan-ikan, kerang dan hewan laut lainya yang selama ini mengkonsumsi benthos (makanan utama ) akan mati atau bermigrasi ke zona yang aman, dari hal ini jelas akan menurunkan produksi perikanan, habitat penting seperti terumbu karang dan hewan-hewan karang dan ini menyebabkan pemusnahan habitat seperti yang saat ini sudah terjadi di Teluk Buyat Manado Sulut. Terhambatnya penetrasi cahaya matahari juga sangat mempengaruhi keberlanjutan ekosistem bawah laut, dan sangat mengganggu keseimbangan bagi proses kimiawi dan biologis perairan, untuk terjadinya proses fotosintesa sangat membutuhkan cahaya matahari yang cukup, bila proses fotosintesa terganggu produktufitas fitoplangton akan berkurang dan ini akan menyebabkan menurunnya oksigen yang larut dalam air laut, oksigen sangat dibutuhkan oleh biota air.
  2. Pencemaran air laut akibat terkontaminasi bahan pencemaran logam berat berbahaya yang terkandung dalam praksi tailing, bahwa tailing mengandung beberapa zat kimia seperti cianida, arsenik, kadmium, klorida, mercury, selenium dan lain-lain, baik itu yang berasal dari batuan alami maupun asupan dari luar pada proses pengolahan, pencucian dan pemisahan mineral berharga (emas,tembaga dan perak) dari bahan tambang. Cairan dan Lumpur tailing yang sangat asam memiliki nilai PH antara 2 – 3, pada kondisi perairan dan limbah ber PH rendah berbagai senyawa kimia berbahaya sangat mudah larut dan terurai dalam air, dan bila ini terjadi akan sangat berbahaya bagi biodata laut dan manusia penguna air laut tersebu, rendahnya nilai PH akan meningkatkan daya racun berbagai zat kimia dan senyawa toksit diperairan zat-zat kimia beracun seperti cianida, arsen, merkuri, kadmium akan sangat berbahaya bagi habitat pesisir, cianida dalam jumlah yang kecilpun dapat mematikan ikan bila terkontaminasi air sungai, arsen logam berat beracun ini juga jauh mengerikan karena mampu mencabut nyawa manusia, mercury dapat menyerang otak, ginjal hati dan system saraf pada manusia, kadmium adalah senyawa beracun bagi manusia dan bisa menyerang ginjal dan pelunakan tulang belakang. Senyawa kimia beracun ini akan sangat berbahaya bila dikonsumsi oleh organisme laut, akan mematikan ikan, kerang dan bila tidak mati logam berat beracun ini akan terurai dan terakumulasi dalam tubuh biota laut, bila ini dikonsumsi oleh manusia akan menyebabkan petaka berupa penyakit atau bisa menyebabkan kematian, hal ini pernah menggegerkan jepang, seperti yang pernah terjadi di Minamata pada tahun 1950-an. Daerah yang paling tinggi potensi bahayanya bagi biota laut ada pada radius 50 meter dari lokasi pembuangan tailing.
  3. Pembuangan tailing kedasar laut akan mengakibatkan pendangkalan dasar laut, melihat volumenya yang sangat besar maka laut yang menampung tailing ini berpotensi besar akan menjadi dangkal, dampak lanjutan dari pendangkalan ini akan menaikan permukaan air laut. Selama ini issu tentang akan naiknya permukaan air laut yang disebabkan oleh pemanasan global dan melelehnya es dikutup utara sudah ramai dibicarakan, dan kini nampaknya tailing yang dibuang didasar-lautpun ikut andil dalam mempercepat proses naiknya permukaan air tersebut, dampak lanjutan dari hal ini jelas akan mengancam perkampungan nelayan dan kota-kota dipinggir pantai serta akan menenggelamkan pulau-pulau kecil yang rendah.

Jangan pula kita terbuai oleh janji-janji tentang penampungan limbah tailing yang lebih baik di atas tanah. Walaupun dinyatakan bahwa teknik pembuangan “yang disempurnakan” telah diterapkan pada dekade lalu, kenyataannya jumlah dan derajat hebatnya bencana semakin meningkat tajam. Penyebabnya antara lain, galian tambang yang menjadi semakin besar saja, kualitas biji tambang yang cenderung menurun dan penerapan mekanisasi yang semakin meluas.

Adanya kegiatan penambangan scala besar memang harus dikontrol dengan ketat, karena membawa dampak negative yang sangat komplek dan mempengaruhi micro cosmos disekitarnya. Makanya jadi paham banyak penentangan pembuangan Tailing saat ini yang terjadi di Maluku Utara saat ini, semoga ada keputusan bijak yang lebih mempertimbangkan lingkungan. (Sumber Juniar Ilham).

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close