HeadLine

Tak Miliki Izin IPPKH, Gakkum KLHK Selidiki Jalan Poros Tengah Garut

Mediatataruang.com– Gunung Cikuray merupakan gunung paling tinggi di Kabupaten Garut. Secara administratif, gunung itu dikelilingi lima kecamatan yaitu Kecamatan Banjarwangi, Cikajang, Cigedug, Bayongbong, dan Cilawu yang menjadi sumber air strategis bagi masyarakat Kabupaten Garut dan kabupaten lainnya di Jawa Barat.

Sekumpulan Owa Jawa yang ada di Kawasan Gunung Cikuray Garut

Di kawasan Gunung Cikuray masih ditemukan satwa liar diantaranya macan tutul dan Owa Jawa. Saat ini kondisi Gunung Cikuray sangat memprihatinkan. Di kawasan gunung Cikuray banyak terjadi alih fungsi lahan, penebangan pohon liar.

Belum lama ini, Pemerintah Kabupaten Garut merencanakan bangun ruas jalan poros tengah, hal ini terus menuai kontroversi. Pembangunan jalan Poros Tengah dihentikan karena belum mengantongi Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kendati demikian meski belum digunakan, di beberapa titik ruas Jalan Poros Tengah sudah terjadi longsoran, sedikitnya ada 4 titik longsor di kawasan tersebut.

Saat ini, pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui penegakan hukum akan menyelidiki kegiatan pembangunan tersebut. Hal ini terungkap saat Gakkum KLHK mengunjungi kantor BKSDA Jabar.

Dari informasi yang diterima, pembangunan jalan poros tengah menabrak kawasan hutan di Gunung Cikuray, pohon-pohon yang ditebang karena lahannya dijadikan jalan, kayunya diduga digunakan untuk membangun villa di kebun milik salah seorang pejabat di Pemkab Garut.

Dilokasi ditemukan bangunan villa dua lantai yang sedang dibangun yang seluruhnya terbuat dari kayu. Bangunan tersebut terlihat menggunakan kayu pinus dan beberapa kayu pohon endemik. Diduga kayu-kayu yang digunakan untuk membangun villa tersebut  didapat dari kayu-kayu sisa tebangan dari lahan yang telah dibangun jalan poros tengah.

Hal ini merupakan sebuah pembiaran dari Perum Perhutani sebagai pemangku kawasan. Diperkirakan kayu yang telah digunakan untuk pembangunan villa tersebut mencapai 10 kubik kayu.

Longsoran yang terjadi akibat pembangunan jalan poros tengah

Hendri (43), warga Desa Sukamurni, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut mengatakan selain longsoran dari tebing yang ada di sisi kiri jalan, sisi kanan jalan yang berbatasan langsung dengan jurang yang dibawahnya adalah Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciwulan, juga mengalami amblas di beberapa titik. Tanah yang amblas, hingga membuat lebar badan jalan terkikis.

“Yang paling parah ada jalan yang sudah amblas hingga menyisakan badan jalan sekitar dua meter dari lebar 8 meter,” katanya.

Hendri menyebut, ruas jalan poros tengah sendiri dibangun dengan cara mengeruk sisi tebing di sisi kanan jalan yang kemudian tanahnya digunakan untuk menutup bagian lahan yang akan dijadikan jalan. Sementara bagian kiri jalan, adalah jurang dengan kedalaman bervariasi yang dibawahnya adalah DAS Ciwulan.

“Jadi selain longsoran, badan jalan juga ada retakan-retakan memanjang yang berpotensi amblas ke DAS sungai,” tandasnya.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close