#iniruangkuOpini

Sandiaga Uno dan Susi Pujiastuti Yang Buat Saya menjadi Nekad

OPINI

(Transisi Bobby Eriawan Menjadi Entrepreneur)

Bandung. Pepatah usang mungkin sarat kebenarannya untuk sekelumit paparan di bawah ini.

“Kesuksesan seringkali didapat dari keterbiasaan melakukan hal2x yang terpaksa,” begitu bunyi kalimat usang yang menjadi lecutan bagi seorang Bobby Eriawan. Sosok pemuda yang lahir dan besar dalam keluarga serta lingkungan yang cukup memberi banyak peluang baginya untuk memilih jalan hidup apa yang akan dilakoninya sebagai suatu komitmen ikhtiar (profesi).

Seperti kebanyakan remaja pada zamannya, Bobby bisa dibilang cukup “bandel” melalui fase remaja hingga menjelang dewasanya. Kenakalan umumnya laki-laki banyak dicobanya, baik karena dorongan hormon sesuai usianya (penasaran berlebih), juga karena tuntutan pergaulan itu sendiri.

Ketika memasuki usia kerja/produktif, Bobby pun tidak mengalami proses yg dirasa cukup berat. Toko material sebagai hadiah atau titipan dari orangtuanya untuk dikelolanya, lebih dari cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup dirinya bersama keluarga kecilnya saat itu.

Keputusan Nekad

Pada suatu masa, dimana publik nasional disibukkan oleh kemunculan banyak figur yang berupaya untuk dipilih rakyat menjadi wali amanah (pemimpin) dalam kontestasi Pilpres, Pilkada, maupun sejumlah kandidat-kandidat menteri, nama Sandiaga Uno sebagai tokoh muda dan Susi Pujiastuti sebagai “perempuan pedalaman” dari Pangandaran termasuk diantara figur yang paling menarik perhatian masyrakat, yang tak luput jg perhatian dari Bobby Eriawan.

Bobby muda saat itu menilai bahwa baik Sandiaga maupun Susi, sebenarnya dibesarkan dari keluarga yg berkecukupan. Tapi apa-apa yang terwarisi oleh orangtua mereka tidak membuat mereka lantas menjadi hanya melanjutkannya saja. Kedua sosok ini berani membuat langkah dan putusan-putusan baru diluar dari yang telah afa itu semua. Kesan keberanian, kreatif, inovatif, terlabelkan pada dua sosok tersebut di pikiran Bobby.

Tidak hanya sampai disitu, kedua figur di atas kemudian masih mau melakukan kegiatan, aktivitas, juga menginisiasi komunitas serta kelompok yang berorientasi sosial kemasyarakatan. Tahapan itu pun belum usai, dua sosok itu juga bahkan masuk serta aktif dalam aktivitas politik, baik masuk dalam organ partai maupun tidak, yang kesemuanya itu dijalani mereka sebagai bentuk dari proses evolusi dan inovasi dalam hidup mereka menurut pendapat Bobby pribadi.

Penilaian yang ada di kepala Bobby terhadap dua sosok tersebut, terlepas dari apa-apa yang dua tokoh tersebut lakukan tidak seluruhnya dianggap berhasil, ada yang menimbulkan pro kontra, bahkan cibiran atau mungkin pujian publik (seperti itilah populer Susi, “Tenggelamkan..!”) menurut Bobby putusan-putusan, keberanian, masuk dalam kemasyarakatan serta politik, itu semua telah membuat mereka berdua besar. Baik besar dalam lebih membesarkan apa yang terwarisi dari orangtua mereka, besar dalam arti menunjukkan mereka berdua merupakan pribadi yang berani, kreatif, penuh inovasi, juga besar yang telah membuat mereka menjadi tokoh di republik ini.

Kesimpulan yang didapati Bobby tersebut itu membuatnya kemudian menjadi merasa hidupnya sesungguhnya hanya stuck di suatu tempat, merasa kurang bermanfaat bagi banyak orang, dan seolah kerdil tidak berani membuat langkah atau hal-hal baru. Kondisi tersebut membuat Bobby merasa hidupnya dalam fase transisi. Dia (Bobby) merasa harus mengambil hikmah serta tauladan dari sosok Sandiaga maupun Susi, harus “Keluar dari Sangkar” pikirnya.

Pikiran yang terus berkecamuk itu akhirnya membuat Bobby “nekad“. Dia tinggalkan dengan mendelegasikan kewenangan toko material yang telah bertahun-tahun jadi sandarannya. Dari nekad Bobby melanjutkannya menjadi tekad pribadinya untuk membuat sejumlah langkah-langkah baru dalam hidupnya, walau langkah tersebut penuh resiko dan selalu ada konsekuensinya.

Bobby memulai nekadnya tersebut dengan mendirikan suatu korporasi (perusahaan) yang bergerak di bidang yang sangat dinamis, tidak seperti toko yang seolah hanya “diam”. Kemudian Bobby pun masuk aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, membuka relasi dengan beragam profesi, bahkan juga masuk dalan organisasi sosial kemasyarakatan.

Sesuatu perubahan, perkembangan, pendidikan, pasti membutuhkan pengorbanan, perlu waktu, dan sering merasakan kepahitan. Itu yang diyakini sosok Bobby, sehingga walau proses “nekad“nya tersebut seringkali mengalami momen-momen tidak nyaman, rugi materi, sakit hati, Bobby tetap bertahan hingga saat ini. Bahkan perusahaan yg didirikannya saat ini akan kembali melakukan ekspansi baik secara struktur maupun varian pekerjaan.

Satu hal yang dipegang sebagai prinsip oleh Bobby adalah, teruslah berjalan dengan niat yang baik, untuk berkembang, untuk memberi maslahat, untuk menjadikan sejarah besar dan indah dalam hidupmu sendiri, serta yakini bahwa setelah itu semua yg diiringi selalu dengan doa, maka kita pasti akan sampai pada tujuan. **

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close