#iniruangku

Wabup Sumedang Apresiasi Ibu Djati dan GNN Reboisasi Di Tanah Terlantar Kawasan Jatinangor

Mediatataruang.com – Jatinangor. Sebanyak 2000 bibit pohon ditanam di kaki gunung Manglayang Blok Nangoh Desa Cibeusi Kecamatan Jatinangor dalam kegiatan penanaman pohon bertajuk “Nata Alam Ku Budaya Melak Tangkal”, Selasa, (6/4/2021).

Penanaman yang gagas Yayasan Ibudjati dan Gelap Nyawang Nusantara dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Sumedang Erwan Setiawan, Kadis Perhutani Jawa Barat Evi Kistiawan didampingi Camat Jatinangor Herry Dewantara, Kapolsek Kompol Aan Supriatna, Sekcam (Yuli Handaka) dan Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) kabupaten Sumedang Wasman.

Puluhan Ormas dari bebagai Stakeholder tergabung bersatu padu turut serta melakukan aksi penanaman Pohon.

Wabup Sumedang H.Erwan Setiawan mengatakan, Pihaknya mengucapkan terimakasih buat Ibu Djati dan Gelap Nyawang Nusantara (GNN) yang telah menggas kegiatan penanaman Pohon.

Menurutnya, selain bertujuan untuk konservasi juga bertujuan sebagai penyangga air di kawasan Jatinangor, Mudah-mudahan penanaman pohon ini bisa menjaga kelestarian alam agar tidak terjadi bencana.

Dikatakan Wabup, saat ini lahan milik Pemprov Jabar di Hak Guna Pakai oleh IPDN, IKOPIN, ITB, UNPAD dan BGG. Ia pun berharap, lahan tersebut tidak semuanya dijadikan pembangunan gedung tetapi lebih banyak digunakan untuk kawasan hijau.

“Potensi bencana terutama longsor hampir ditiap kecamatan sangat tinggi. Jangan berpikir karena lahan masih luas lalu dijadikan bangunan semuanya, saya harap lahan ini tetap dijadikan kawasan hijau,” tukasnya.

Sementara menurut Pendiri Gelap Nyawang Nusantara Asep Riyadi didampingi Ketua Ibu Djati Dadang Mulyadi mengatakan, kegiatan hari ini adalah melakukan kegiatan moral yang nyata terhadap tanah tanah yang ditelantarkan.

“Baik itu tanah milik pemerintah ataupun kapitalis semuanya harus dipulihkan dengan cara menanam, jika tanah tersebut ditelantarkan maka akan semakin banyak bencana yang akan menimpa, jadi harus secepatnya direboisasi dan dikembalikan hijau,” tegasnya.

Ia menuturkan seperti tanah yang kita tanami ini adalah tanah terlantar dari tahun 1992 yang mana lahan ini dijadikan kawasan pendidikan Nasional, namun ternyata faktanya tanah ini sudah puluhan tahun ditelantarkan dan dampaknya lima desa di kawasan Jatinangor sudah jadi langganan banjir

“Padahal dulu Jatinangor tidak pernah ada banjir, berangkat dari itu semua kita melakukan reboisasi dilahan terlantar dibelakang Universitas UNWIM, guna meminimalisir bencana kedepanya,” ungkapnya.

Sementara itu menurut Pembina Ibu Djati Den Ato mengatakan, sebagian besar kawasan Jatinangor sudah dipadati perumahan, bangunan perguruan tinggi, apartemen dan akses Tol Cisumdawu.

“Penghijauan atau penanaman pohon di kawasan Jatinangor dinilai perlu. Terlebih, area resapan air sekarang semakin berkurang,” katanya.

Menurutnya, menanam pohon merupakan budaya Indonesia sehingga, Ibu Djati terpanggil untuk melakukan penghijauan dan melestarikan alam.

Ia melanjutkan, budaya menanam pohon merupakan aksi salahsatu upaya pencegahan dari bencana banjir dan longsor.

Selain di area kaki gunung manglayang, penanam pun pohon dilakukan di area gunung geulis dan sekitar waduk Jatigede.

“Ini merupakan aksi nyata semua pihak mulai dari masyarakat, komunitas, institusi di Sumedang. Diharapkan, kegiatan menanam pohon terus dilakukan terutama di area lahan kritis,” katanya.

Ia berharap aksi penanaman pohon dilaksanakan secara berkelanjutan mengingat, kawasan resapan air di kabupaten Sumedang dinilai semakin berkurang.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close