#iniruangkuDaerahNasional

PANDAN WANGI

Media Tata Ruang – Sebagaimana dijelaskan dalam Wikipedia, pandanwangi adalah salah satu varietas dari padi bulu yang ditanam di Cisalak, Cibeber, Cianjur, Jawa Barat. Karena nasinya yang beraroma pandan, maka padi dan beras ini sejak tahun 1973 terkenal dengan sebutan “Pandan Wangi”.

Padi Pandan Wangi berumur tanam 150-165 hari, tinggi tanamannya mencapai 150-170 cm, gabahnya bulat/gemuk berperut, bermutu, tahan rontok, berat 1000 butir, gabah 300 gr, rasa nasi enak, dan beraroma pandan.

Adapun, kadar amilasenya 20%. Potensi hasilnya adalah 6-7 Ton/Ha malai kering pungut.” Padi seperti ini punya keunggulan seperti: rasanya enak, pulen, dan beraroma wangi seperti pandan. Karena rasanya yang enak, maka harga berasnya bisa dua kali lebih mahal daripada biasanya.

Pandan Wangi adalah ikon nya Kabupaten Cianjur. Pemerintah Daerah Cianjur sendiri telah menerbitkan Peraturan Daerah yang isi nya antara lain mengatur pelestarian dan pengembangan Pandan Wangi.

Hal ini perlu kita dukung, karena dengan semakin marak nya alih fungsi dan alih kepemilikan lahan sawah di Kabupaten Cianjur, kini luas sawah Pandan Wangi pun makin menyusut. Dulu areal nya tersebar luas di enam Kecamatan dengan luasan yang memadai, sekarang ini mungkin tinggal ratusan hektar saja.

Sawah produktif yang beralih-fungsi menjadi pabrik-pabrik atau perumahan, di Cianjur adalah sesuatu hal yang lumrah. Pemandangan semacam itu dapat kita amati manakala kita melakukan perjalanan darat dari Bandung ke Cianjur lalu teruskan ke Sukabumi atau ke Bogor.

Bagi Jawa Barat, Pandanwangi telah ditetapkan sebagai salah satu komoditas utama dalam pengembangan tematik kewilayahan. Sama hal nya dengan buah Gedong Gincu yang dijadikan ikon Kabupaten Cirebon.

Lewat kebijakan tematik kewilayahan inilah Provinsi Jawa Barat tetap konsisten untuk memantapkan posisi nya sebagai lumbung pangan nasional, khusus nya padi.

Data terkini masih menunjukan kontribusi produksi padi Jawa Barat ke tingkat nasional adalah sekitar 17,8 %. Angka ini hampir tidak jauh berbeda dengan Provinsi Jawa Timur.

Prestasi ke dua Provinsi ini, khusus nya dalam meningkatkan produksi dan produktivitas padi per hektar nya memang cukup mengagumkan sekaligus merupakan sentra produksi padi yang paling besar di negeri ini.

Hampir setiap tahun ke dua Provinsi ini bergantian untuk memperoleh peringkat pertama dan kedua dalam hal Provinsi tertinggi produksi padi nya.

Kembali ke soal Pandanwangi. Sebagai “beras buhun” (benih nya dilestarikan dari warisan leluhur), Pandanwangi ternyata telah menghipnotis bangsa ini akan wangi pandan nya yang khas. Pandanwangi bukanlah konsumsi masyarakat kebanyakan.

Dengan harga yang cukup mahal, Pandanwangi hanya dapat dinikmati oleh golongan masyarakat yang berpendapatan tinggi atau sering kita sebut selaku “penikmat pembangunan”. Mereka yang berprofesi selaku tukang becak atau para petani buruh dan mereka yang layak divonis selaku “korban pembangunan”, janganlah mimpi untuk menjadi konsumen tetap beras Pandanwangi.

Inilah lucu nya tanah merdeka. Biarpun yang menanam Pandanwangi adalah para petani, ternyata hampir tidak pernah mereka akan dapat merasakan padi yang ditanam nya. Mereka tetap saja makan beras raskin yang harga nya disubsidi Pemerintah.

Sebagai konsumen, sebaik nya kita hati-hati juga dalam membeli beras Pandanwangi agar kita tidak tergolong ke dalam warga bangsa yang gampang ditipu. Seiring dengan kemajuan teknologi, penting diwaspadai hadir nya teknologi wewangian padi di masyarakat.

Terkait beras Pandanwangi, kita perlu membedakan antara beras Pandanwangi Asli dan beras Wangi Pandan. Fakta di lapangan, sering ditemukan beras Pandanwangi yang sudah dicampur dengan varietas lain seperti Ciherang atau Sintanur. Beras Pandanwangi nya 20 %, Ciherang atau Sintanur nya 80 %.

Supaya terkesankan Pandanwangi Asli, biasa nya ditambahkan aroma wangi pandan. Hebat nya lagi, dalam kemasan nya pun tertulis Pandanwangi Cianjur misal nya. Masyarakat sebagai konsumen, rata-rata tidak mau ribet dan dibelilah beras tersebut untuk dikonsumsi sanak keluarga nya. (*Entang Sastraatmadja, Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close