#iniruangkuKajianOpini

Mengecat Langit

Mediatataruang.com – Bahasa kampanye pasti berbeda dengan bahasa sehari-hari. Dalam kampanye biasa nya akan diumbar segudang janji muluk yang terkadang sulit untuk diukur lewat akal sehat. Kampanye yang dilakukan cenderung mengedepankan hal-hal yang pragmatis. Semua serba gampang. Dunia seperti milik nya sendiri. Enak di dengar, namun tidak enak untuk dibuktikan. Enak di gue, ngak enak di elu.

Tidak pernah dijelaskan bahwa yang diutarakan nya itu ibarat angin surga. Gampang dibicarakan, tapi sulit untuk diwujudkan. Apa yang dijelaskan seperti mengecat langit. Sampai dunia kiamat pun tidak akan pernah tuntas. Tidak menapak bumi. Suasana inilah yang sering kita temui bila kita berkesempatan menyaksikan kampanye Pemilihan Kepala Daerah atau pun Pemilihan Anggota Legislatif.

Kampanye memang bertujuan untuk merebut simpati sekaligus dukungan masyarakat. Akibat nya wajar jika bahasa yang digunakan nya pun penuh dengan hal-hal yang vulgar, bombastis dan terkadang penuh sensasi. Kampanye adalah proses untuk meyakinkan orang terhadap visi atau misi yang disampaikan para kandidat. Itu sebab nya, dalam kampanye tidak akan mengetahui apa yang menjadi kelemahan nya, tapi kita akan mendengar hal-hal yang baik-baik nya saja.

Sejati nya kampanye adalah memberi keyakinan kepada rakyat terkait ide atau gagasan yang akan dilakukan, andaikan diri nya terpilih menjadi Kepala Daerah atau Wakil Rakyat. Di negara kita, para calon harus mematuhi aturan main yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum. Ada rambu-rambu yang tidak boleh dilewati. Ada etika yang harus dijaga dan dihormati. Termasuk materi-materi apa saja yang layak untuk disampaikan kepada publik.

Namun begitu, di sisi lain, kita masih sering menemukan ada nya janji-janji calon yang terkesan sangat jauh dari kenyataan. Sebagai contoh soal Pendidikan Gratis atau Pembuatan Surat Ijin Mengemudi Gratis. Kata gratis, rupa nya sangat diminati oleh para calon. Apakah hal itu disebabkan oleh mental masyarakat yang masih suka pada hal-hal yang gratis ? Atau ada hal lain yang ingin disampaikan para calon terkait dengan kata gratis itu sendiri.

Bangsa kita terekam masih senang dengan hal-hal yang sensasional. Kalau saja ada calon yang banyak mengumbar janji-janji program yang praktis dan menyentuh kepada nurani para pemilih, boleh jadi rakyat akan menyukai nya. Rakyat tampak sudah bosan mendengar ocehan tentang penberantasan korupsi. Sebab rakyat juga mampu menilai, dengan semakin banyak korupsi dibicarakan, ternyata praktek korupsi pun semakin menjadi-jadi.

Kampanye sendiri, mesti nya mampu dikemas sedemikian rupa, sehingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan politik rakyat. Perubahan yang berlangsung dengan cepat, memaksa kepada kita untuk mencermati nya dengan seksama. Begitu pun dengan pergeseran lingkungan strategis dalam percaturan global. Semua ini, sepantas nya ikut mewarnai materi-materi kampanye yang bakal disuarakan oleh para calon.

Sebagai proses pendidikan politik, kampanye merupakan ajang yang tepat untuk membangun komunikasi yang inten antara calon pemimpin bangsa dengan rakyat nya. Komunikasi yang dijalani, tentu bukan cuma satu arah, tapi sangat dituntut agar terjadi komunikasi dua arah. Pada saat komunikasi itulah diharapkan terjadi pendidikan politik cerdas.

Kesadaran politik rakyat terhadap politik pembangunan, rupa nya masih kalah pamor dibanding dengan politik praktis. Masyarakat cenderung lebih menyukai kampanye yang disertai dengan bagi-bagi uang atau sembako, dari pada mendengarkan orasi para calon yang bicara panjang lebar soal politik. Inilah bukti bahwa masyarakat, khusus nya di pelosok-pelosok masih menyenangi ikutan nya ketimbang kampanye nya.

Pendidikan politik dalam beberapa tahun belakangan ini terasa semakin mengendor dilaksanakan, baik oleh Pemerintah atau pun Partai Politik. Kalau pun ada, terkesan ala kadar nya. Materi yang disampaikan nya pun relatif standar. Padahal, dinamika politik di Era Reformasi, relatif lebih kompleks dibanding pada Era Orde Baru. Sepatut nya pendidikan politik perlu semakin gencar dilakukan.

Banyak nya pandangan yang menyebut pendidikan politik rakyat saat ini, terlihat kurang serius digarap oleh Pemerintah mau pun Partai Politik, rasa-rasa nya dapat kita maklumi. Pendidikan politik adalah investasi sumber daya manusia yang hasil nya bakal terlihat dalam jangka panjang. Hal semacam ini jelas kurang disukai oleh para pengelola pendidikan politik. Mereka lebih senang datang ke dapil untuk kemudian bincang-bincang soal kepentingan partai politik nya.

Soal lain yang banyak ditemukan adalah ada nya anggapan bahwa pendidikan politik bukanlah hal mendesak untuk digarap Partai Politik. Justru yang menjadi orientasi Partai Politik adalah bagaimana mengumpulkan dana seoptimal mungkin untuk dijadikan “peluru” pada waktu Pemilihan Umum Legislatif digelar. Mereka sangat butuh alat peraga kampanye, kaos, bendera, spanduk, baligo, poster dan lain sejenis nya.

Bicara yang muluk-muluk, rupa nya sudah tidak relevan lagi dengan masyarakat yang semakin menuntut fakta kehidupan. Rakyat ingin yang praktis dan realistik. Rakyat tidak mau lagi diajari hal-hal yang berbumbu teori. Rakyat ingin bukti. Rakyat sudah bosan mendengar pidato yang isi nya indah-indah, namun tidak mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Itu sebab nya, bila masih ada yang berperilaku seperti itu, maka mereka akan disebut sedang mengecat langit. Sebuah ungkapan yang penuh dengan rasa sinis. (* Entang Sastraatmadja, Ketua Harian DPD HKTI Jabar)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close