#iniruangkuHeadLine

Indeks Kematian Terhadap Kepadatan Penduduk

— Studi Kasus : Jawa Barat, 23-29 Juli 2021

Mediatataruang.com – Menghadapi badai pandemi ini, kita sebaiknya jangan terkecoh dengan angka-angka umum. Kesimpulan yang diambil sangat mungkin keliru. Sungguh berbahaya. Sebab, pesan tunggal ancaman virus corona ini adalah, “jaga jarak (aktivitas) sosial Anda!”

Jadi, kerawanannya ada pada pertemuan antar manusia. Semakin terkumpul atau berkerumun, semakin tinggi resikonya. Maka, indikator tingkat kepadatan manusia dalam suatu ruang, adalah hal yang teramat penting.

Resiko tersebut semakin gawat jika dihubungkan dengan literasi dan tingkat kemampuan ekonomi masyarakatnya.

Literasi terkait dengan pemahaman tentang apa itu virus corona. Bagaimana bisa tertular dan menulari. Kerawanan seperti apa yang menimpa orang terkasih yang berusia lanjut maupun memiliki penyakit bawaan. Hingga keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan — bahkan obat-obatan — seandainya kelak membutuhkan di daerahnya masing-masing. Bukan di Jakarta atau Bandung, misalnya. Kota yang jauh lebih lengkap dalam hal ketersediaannya. Meski saat ini mereka masih saja kelimpungan. Walaupun mungkin tak seheboh beberapa waktu lalu.

Hal paling rumit ketika meminta masyarakat membatasi aktivitasnya adalah, kemampuan ekonomi mereka untuk bertahan hidup sehari-hari. Pemerintah harus bekerja keras. Memastikan bantuan dapat tersalurkan segera. Agar mereka tak terpaksa mengabaikan kebijakan pembatasan kegiatan itu.

Kerahkanlah seluruh aparat negara — sipil, militer, maupun kepolisian — untuk ‘memfasilitasi’ pemahaman dan kesadaran disiplin tersebut. Perhatikan kata ‘memfasilitasi’.  Bukan memantau, mengawasi, atau menegakkan aturan semata. Hal tersebut adalah langkah terakhir yang perlu kearifan dan pertimbangan masak. Jika pun perlu dan harus diterapkan.

Kita kembali ke pokok soal. Tentang pembatasan aktivitas sosial yang dihubungkan dengan tingkat kepadatan penduduk.

Perlu digaris bawahi, dengan kemampuan melakukan tes yang rendah dan tak merata antara suatu daerah dengan daerah lain, saya lebih meyakini pendekatan menggunakan angka kematian, lebih merepresentasikan keadaan sebenarnya. Meski pendataannya mungkin belum sungguh-sungguh memadai. 

baca juga Fatality Rate, Bedanya Pandangan dari Helicopter deng

Jika membandingkan angka kematian dan jumlah kasus baru setiap harinya — selama 7 hari terakhir (23-29 Juli) — kondisi Jakarta dan Bandung memang terlihat membaik. Jumlah kematian yang disandingkan dengan setiap 1000 kasus positif yang ditemukan seminggu terakhir di Jakarta, hanya 26 jiwa. Sementara Bandung, 22 jiwa. Penurunan tersebut tentu tak terlepas dari upaya menegakkan disiplin selama PPKM yang berlangsung hampir sebulan belakangan. Tapi yang jauh lebih penting diperhatikan adalah, ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan untuk mendukung penanggulangan masalah di kedua kota tersebut.


Indeks kematian terhadap kepadatan penduduk

Dampaknya terlihat pada nilai yang dibukukan Bekasi, Depok, dan Bogor. Angka kematian per 1000 kasus seminggu terakhirnya, sudah jauh lebih rendah. Bahkan Kota Bekasi mencatatkan angka nol.

Begitu juga Bandung dan sekitarnya. Kecuali kabupaten Bandung yang terlihat ekstrim (hitam). Setiap 1000 kasus baru, di sana tercatat ada 73 kematian.

Seperti Jakarta, keberhasilan Bandung menekan laju kematian covid-19 tersebut, tak terlepas dari dukungan fasilitas dan tenaga kesehatan yang tersedia di sana. Bahkan termasuk kemampuan untuk melaksanakan tes yang kemudian mencerminkan jumlah kasus hariannya.

Adalah sangat menarik, ketika membandingkan kumulatif angka kematian, terhadap jumlah kasus baru seminggu terakhir, di daerah yang relatif terpencil dari kota-kota besar.

Indikasi berwarna hitam (dikategorikan parah karena lebih 50 nyawa yang hilang untuk setiap 1000 kasus baru) — selain Kabupaten Bandung — terlihat di kota Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, dan Kuningan.

Sementara di lintasan utara, Karawang juga tercatat pada angka 63. Patut diteliti lebih lanjut apakah ada keterkaitan lintasan jalan tol yang kini menghubungkan Jakarta hingga Surabaya, terhadap kecilnya angka indeks di daerah yang dilaluinya. Tentunya selain Karawang yang memang kawasan industri dan menjadi salah satu tujuan maupun asal perjalanan pelintas jalan tol tersebut.

Sebagaimana ditegaskan di awal, kepadatan penduduk pada suatu kawasan, memiliki kecenderungan yang tinggi terhadap terjadinya kerumunan. Selanjutnya tentu berpengaruh pada resiko penularan virus corona. Juga kematian yang diakibatkannya.

Maka, membandingkan angka kematian seminggu terakhir dengan kepadatan penduduk masing-masing daerah, kemungkinan besar lebih mampu menggambarkan keadaan sebenarnya.

Jakarta, meski statistiknya cenderung melandai selama sepekan terakhir, nyatanya masih membukukan nilai indeks yang tinggi. Yakni pada angka 61 kematian untuk setiap 1000 penduduk per kilometer perseginya. Pada periode 23-29 Juli, kematian pada kawasan yang dipadati 15.964 jiwa/km2 tersebut, tercatat 976 nyawa.

Dengan menggunakan pendekatan serupa, Karawang mencatatkan indeks hampir 2 kali lipat (117). Purwakarta hampir 3 kalinya (171).

Kategori indeks parah yang ditandai dengan warna hitam, terlihat sangat dominan di jalur selatan. Bahkan Garut mencatatkan angka 385.

Sebagian besar wilayah metropolitan Bandung — selain kabupaten Bandung — terlihat sudah jauh lebih terkendali. Indeksnya cukup rendah (di bawah 10). Begitu pula wilayah yang tercakup dalam metropolitan Jakarta.

Peta indeks kematian seminggu terakhir terhadap kepadatan penduduk ini, selayaknya menjadi salah satu acuan ‘pengelolaan’ pembatasan kegiatan masyarakat di sana.

Pertama, sebaiknya arus pergerakan manusia maupun barang ke dan dari kabupaten/kota yang memiliki indeks 0, dapat segera diperketat. Sementara aktivitas masyarakat di sana mestinya bisa diperkenankan normal seperti biasa. Asalkan tertib menegakkan protokol kesehatan. Oleh karena itu, upaya ekstra agar literasi hingga kesadaran terhadap ancaman pandemi ini meningkat, perlu dilakukan segera.

Mobilitas dengan daerah tetangga perlu mempertimbangkan angka indeks mereka. Dari dan ke kabupaten/kota yang berwarna hitam maupun merah, harus sangat diperketat. Hanya untuk keperluan esensial dan mendesak saja yang diperkenankan. Itupun harus disertai sistem pelacakan pergerakannya selama berada di sana.

Pelonggaran dapat dilakukan pada kawasan-kawasan yang sudah memiliki indeks yang rendah (kuning atau putih). Termasuk mobilisasi di antara mereka. Tapi dengan satu syarat. Yakni didukung fasilitas yang mampu melakukan sistem pelacakan pergerakan orang maupun barangnya.

Pada kawasan-kawasan yang berwarna merah hingga hitam, pengetatan luar biasa sebaiknya segera dilakukan. Apalagi, kabupaten maupun kota-kota tersebut relatif jauh dari kota-kota besar yang memiliki kelengkapan fasilitas dan tenaga kesehatan memadai. Seperti Jakarta, Bandung, dan mungkin Cirebon. Sudah waktunya pemerintah daerah Jawa Barat mengerahkan segala daya upaya agar pembatasan tersebut dapat terlaksana dengan baik. Sebab, jika tidak demikian, kemungkinan terjadinya lonjakan kasus dan jumlah kematian yang mengerikan, di daerah-daerah pinggiran tersebut, tak terelakkan lagi.

Tangisan duka dan kesedihan karena ditinggalkan mereka yang dikasihi dan disayanginya — di tengah kerumunan yang padat — jauh lebih melengking.

Gemanya pun ke mana-mana. Bahkan hingga Sabang di ujung barat. Marauke di ujung timur. Miangas dan pulau Rote, di pinggir sisi utara dan selatan republik ini.

Waktu kita semakin sempit.

Mardhani, Jilal 30 Juli 2021

Catatan:

1. Tulisan ini melengkapi yang sebelumnya Fatality Rate, Bedanya Pandangan dari Helicopter dengan Fakta Lapangan dengan menggunakan data lapangan yang lebih aktual (kasus dan kematian periode 23-29 Juli 2021). Juga dilengkapi rekomendasi penting untuk ditindaklanjuti oleh pihak terkait.

2. Pendekatan yang sama dapat dilakukan untuk propinsi lain. Juga sangat disarankan dijabarkan pada lingkup kawasan lebih kecil pada masing-masing kabupaten kota. Agar upaya pembatasan yang dilakukan lebih terukur dan terarah. Bukan gebyah uyah.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close