#iniruangkuDaerahKajian

Mitigasi Bencana Wilayah Pesisir #3

Mediatataruang.com – Berdasarkan data kebencanaan dunia yang dikumpulkan oleh CERD (Center for Research on the Epidemiology of Disaster), wilayah Indonesia merupakan wilayah yang cukup rawan (berada pada alur cincin api) terhadap berbagai bencana alam juga dari kondisi kerentanan, kemampuan masyarakat dan kemampuan sarana dan prasarana pendukung pemenuhan kebutuhan hidup pada saat ada bencana.

Dilihat dari potensi ancaman bencana alam, wilayah pesisir mempunyai potensi yang cukup besar terhadap ancaman bahaya dari bencana alam. Hal ini diperburuk dengan situasi dan kondisi yang cukup rentan akibat dari kompleksitas pertumbuhan kota maupun wilayah di wilayah pesisir seringkali banyak mengabaikan atau tidak memperhatikan unsur- unsur mitigasi bencana alam dalam proses pembangunannya, demi tercipta lingkungan binaan yang aman dari bencana. Dilain pihak untuk wilayah pulau-pulau kecil, dilihat dari faktor upaya keselamatan, kondisi kerentanan maupun kesiapan wilayah dalam menghadapi bencana alam menunjukan level yang tidak lebih baik.


Upaya mitigasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menitikberatkan pada upaya preventif pada prabencana. Penyelenggaraan mitigasi bencana di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tidak terlepas dari perhatian terhadap aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat, kelestarian lingkungan hidup, kemanfaatan dan efektivitas, serta lingkup luas dari wilayah.

Berdasarkan hal di atas, maka diperlukan pengaturan lebih lanjut mengenai kegiatan pengurangan risiko bencana di wilayah pesisir dan pulau- pulau kecil sesuai dengan jenis, tingkat risiko, dan wilayah bencana. Pemerintah telah menyusun pengaturan mitigasi bencana dalam perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, mitigasi terhadap kegiatan yang berpotensi mengakibatkan kerusakan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta tanggung jawab Pemerintah, pemerintah daerah, termasuk masyarakat.

Beberapa jenis bencana di wilayah pesisir dan pulau pulau Kecil telah dikelompokkan berdasarkan penyebabnya, bencana dapat dikelompokkan menjadi bencana alam dan non alam (karena perbuatan orang).

Bencana yang diakibatkan karena peristiwa alam :

  1. gempa bumi;
  2. tsunami;
  3. gelombang ekstrim;
  4. gelombang laut berbahaya;
  5. letusan gunung api;
  6. banjir;
  7. kenaikan paras muka air laut;
  8. tanah longsor;
  9. erosi pantai;
  10. angin puting beliung.

    Bencana yang diakibatkan karena perbuatan orang :
  11. banjir;
  12. kenaikan
  13. paras muka air laut;
  14. tanah longsor; dan
  15. erosi pantai.

    Sedangkan bencana wilayah pesisir yang dikelompokkan berdasarkan prosesnya menjadi bencana geologis dan bencana klimatologis.

Bencana geologis berupa kejadian sebagai berikut:

  1. gempa bumi;
  2. tsunami;
  3. letusan gunung api;
  4. tanah longsor;
  5. angin puting beliung.

    Sedangkan bencana klimatologis dapat berupa kejadian sebagai berikut:
  6. gelombang ekstrim;
  7. gelombang laut berbahaya;
  8. banjir;
  9. kenaikan paras muka air laut;
  10. tanah longsor;
  11. erosi pantai;

    Keseluruhan aspek pembahasan diatas terangkum dalam tingkat risiko bencana (Risk/R) ditentukan berdasarkan analisis bahaya (Hazard/H), kerentanan (Vulnerability/V), dan kapasitas (Capacity/C)

    Dalam konteks pengendalian dan pengelolaan sumberdaya pesisir dan kelautan, terdapat beberapa tantangan dan permasalahan seperti karakteristik sumberdaya, keterbatasan pengalaman, kurangnya data dan informasi, terbatasnya pendanaan dan lain sebagainya. Selain itu pelaksanaan desentralisasi pengelolaan sumberdaya alam pada saat ini telah memunculkan adanya peralihan beberapa kewenangan pusat ke daerah. Peralihan kewenangan tersebut menuntut tanggung jawab yang semakin besar dari semua pihak terhadap pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut.

    Kebijakan Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan suatu kerangka konseptual yang disusun untuk
    mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana terutama di wilayah pesisir. Mitigasi bencana meliputi pengenalan dan adaptasi terhadap bahaya alam dan buatan manusia, serta kegiatan berkelanjutan untuk mengurangi atau menghilangkan resiko jangka pendek, menengah dan panjang, baik terhadap kehidupan manusia maupun harta benda.

    Kebijakan Mitigasi Bencana di wilayah pesisir ini adalah sebagai berikut :
    a. Mengurangi resiko/dampak yang ditimbulkan oleh bencana khususnya bagi penduduk di wilayah pesisir, seperti korban jiwa, kerugian ekonomi dan kerusakan sumberdaya alam.
    b. Mengurangi dampak negatif terhadap kualitas keberlanjutan ekologi dan lingkungan di wilayah pesisir akibat bencana alam maupun buatan.
    c. Sebagai pedoman untuk perencanaan pembangunan wilayah pesisir.
    d. Meningkatkan pengetahuan masyarakat pesisir dalam menghadapi serta mengurangi dampak/resiko bencana.
    e. Meningkatkan peran serta pemerintah baik pusat maupun daerah, pihak swasta maupun masyarakat dalam mitigasi bencana di wilayah pesisir.

    Strategi mitigasi bencana di wilayah pesisir secara filosofis, melalui beberapa strategi sebagai berikut :
    a. Pola protektif, yaitu dengan membuat bangunan pantai secara langsung “menahan proses alam yang terjadi”.
    b. Pola adaptif, yakni berusaha menyesuaikan pengelolaan pesisir dengan perubahan alam yang terjadi.
    c. Pola mundur (retreat) atau do-nothing, dengan tidak melawan proses dinamika alami yang terjadi, tetapi “mengalah” pada proses alam dan menyesuaikan peruntukan sesuai dengan kondisi perubahan alam yang terjadi.

  12. Berdasarkan panduan mitigasi bencana pada wilayah pesisir dalam penanganannya harus dipegang aspek keseimbangan melalui tiga
    komponen penting yaitu :
  13. Keseimbangan ekologis,
  14. Keseimbangan pemanfaatan, dan
  15. Keseimbangan dalam pencegahan bencana (mitigasi). (*Juniar Ilham)
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close