#iniruangkuHeadLineKajian

Mustahil Lacak Kontak Manual #3

Perspektif Planologi pada Covid19 #3

Mediatataruang.com – Jadi, sistem pelacakan mobilitas itu memang penting sekali. Sangat sulit jika dilakukan manual. Sebab akurasinya tak mudah dipertanggung jawabkan.

Coba bayangkan jika Anda ditanya. Ke mana saja selama 3 hari belakangan. Jam berapa dan bertemu dengan siapa saja.

Pertama, mungkin saja lupa. Walau tak ada maksud berbohong atau ingin menutupinya. Tapi betul-betul tak ingat kalau sempat mampir ke ATM di salah satu mini market. Anda cuma ingat pergi ke kantor untuk membereskan sejumlah dokumen.

Ketika singgah di kantor pun, mungkin lupa kalau sebetulnya sempat mampir ke bagian keuangan. Menyapa pegawai di sana dan menanyakan kabar mereka. Lalu ada yang bermurah hati. Dibawakannya Anda secangkir kopi. Sehingga lebih lama duduk di sana.

Persoalan pelacakan ini akan semakin rumit jika mampir di tempat umum. Pasar swalayan, pompa bensin, ATM, apotik, dan seterusnya. Kita tak tahu siapa saja yang ada di sana. Apalagi tentang siapa yang berada di sekitar kita. Kasir atau petugas yang berdiri di depan pintu masuknya pun, tak pernah tahu. Siapa saja yang datang dan pergi dari sana.

Kalau begitu, apa gunanya pelacakan aktivitas jika tak bisa mengidentifikasi siapa saja yang pernah melakukan kontak atau berada dekat dengan kita?

Dengan menggunakan tata cara manual yang menyandarkan keberhasilannya dari tenaga manusia, sangat besar kemungkinan jika ada kontak yang tak teridentifikasi. Otomatis tak bakal terlacak. Sebab ketentuan kontak erat yang disebut dalam Panduan Kementerian Kesehatan adalah,

“Siapa pun yang berada dalam jarak 1 meter dari pasien selama setidaknya 15 menit, sejak 2 hari sebelum munculnya gejala hingga 14 hari setelah munculnya gejala.”

Sementara, 1 saja yang lolos atau tak terlacak, kebetulan tertular pula, maka dia berpotensi menyebarkan kepada siapa saja yang kontak dengannya kemudian.

Pelacakan kontak erat, hanya sangat dimungkinkan jika mendayagunakan teknologi komunikasi canggih yang sesungguhnya hari ini sudah tersedia. Memanfaatkan jaringan internet. GPS dan sejenisnya. Juga telfon pintar yang saat ini, pemerataan kepemilikannya sudah sangat tinggi. Melengkapi jaringan dan perangkat yang belum memiliki, jauh lebih memungkinkan. Atau mengembangan sistem khusus untuk mengatasi diskresinya.

April tahun lalu, saya dan sejumlah rekan telah mengembangkan protype aplikasinya. Kami namakan NewLife.

Di tengah kegamangan saat itu, gagasan tersebut disampaikan kepada Kementerian Pariwisata yang dipimpin Wishnutama. Latar belakangnya sederhana. Sektor pariwisata adalah yang paling berpotensi untuk dibangkitkan kembali. Jika dan hanya jika sistem pelacakan kontak yang dapat dipertanggung jawabkan, sudah tersedia.

Kami mengembangkan NewLife bukan hanya untuk melacak kontak yang sudah dan bergejala. Tapi justru siapa saja yang berkenan tergabung dalam komunitas aplikasi tersebut. Artinya mereka yang meregistrasikan diri.

Siapa saja yang sudah terdaftar, akan memiliki rekam jejak yang terperbaharui setiap saat. Tentang ketertibannya tak melakukan kontak erat dengan siapapun yang dicurigai telah terpapar. Atau selang waktu yang sudah dilewatinya, sejak terakhir melakukan kontak dengan siapa pun yang dicurigai.

Aplikasi juga menetapkan kebijakan tentang ‘kesehatan lokasi’ pertemuan. Pengguna dapat mengetahui resiko tertular dari rekam jejak kunjungan mereka yang dicurigai terpapar di sana. Dengan demikian, pengguna aplikasi memiliki keleluasaan bersikap. Jika tetap memutuskan mampir di lokasi tersebut, maka status ‘kesehatannya’ akan berubah. Sesuai dengan status lokasi itu. Hal yang membutuhkan disiplin dan ketertiban diri untuk ‘mengembalikan status kesehatannya’ pada kondisi semula. Atau dikucilkan yang lain karena tak ingin menanggung resiko tertular jika bertemu. Atau berada dalam satu ruangan dengannya.

Singkat kata, aplikasi tersebut memang sengaja dirancang untuk menepis kekhawatiran kita beraktivitas sosial. Menggunakan rekam jejak pergerakan anggotanya. Juga pengunjung fasilitas yang bermitra dengan NewLife.

Protype kemudian diuji coba pada bulan September. Sesuai pembicaraan yang kami lakukan dengan Wishnutama beberapa bulan sebelumnya. Tapi ketika itu pemerintah justru mulai melonggarkan pergerakan masyarakat. Bahkan ASN diminta melakukan perjalanan dinas keluar kota. Hal yang kemudian terbukti meningkatkan kembali jumlah kasus aktif. Bahkan menyebabkan fasilitas kesehatan kita kewalahan menangani pasien saat menjelang akhir tahun.

Aplikasi tersebut kemudian terbengkalai. Kami tak memiliki kapasitas sumberdaya melanjutkannya.

Wishnutama kemudian dicopot Joko Widodo dan digantikan oleh Sandiaga Uno. Begitu juga Menteri Kesehatan Terawan yang digantikan oleh Budi Sadikin.

Saya yang harus melakukan perjalanan ke Medan di akhir tahun lalu, kemudian tertular. Lalu mengalami dan membuktikan sendiri. Segala tata laksana upaya penanganan dan pencegahan yang sudah dikerjakan dan dimiliki pemerintah, tak satupun ada yang jalan. Mulai dari sistem pelacakan, protokol penanganan rumah sakit terhadap pasien bergejala, hingga langkah tanggap darurat satuan tugas yang mestinya sudah menjangkau lingkungan pemukiman. Apalagi di kawasan perumahan seperti yang saya tempati.

Itu sebab, saya mengingatkan dan meawatkan kepada Budi Sadikin. Juga menawarkan aplikasi yang prototype-nya telah kami kembangkan. Gratis.

Salah seorang rekan yang sejak semula mendukung pengembangan gagasan tersebut, tadi pagi menyampaikan pesan,

“Saya dengar alasannya politis mas. Pemerintah gak mau dikesankan memata-matai warga.”

Kami membicarakannya setelah membaca berita utama ‘Telat Sadar Lacak Corona’ di Koran Tempo hari ini (Sabtu, 31 Juli 2021).

Padahal, salah satu upaya efektif tersisa, agar perluasan penularan virus corona dapat terkendali — terutama pada daerah pinggiran yang jauh dari Jakarta dan kota-kota besar yang relatif memiliki fasilitas dan tenaga kesehatan lebih memadai — hanyalah pada sistem pelacakan kontak erat yang handal.

Artinya sistem yang tidak banyak tergantung pada kehandalan manusia untuk mengerjakannya, cepat, handal, terjangkau, nyaman, dan akurat.

Jika situasi darurat telah menyebabkan kita terpasung tanpa kejelasan manfaat — terbukti berbagai pembatasan yang dilakukan sebelumnya selalu berakhir lonjakan kasus yang semakin parah — mengapa tak bisa meminta kesediaan masyarakat agar aktivitas dan pergerakannya diawasi demi kepentingan bersama?

Demokrasi tetap bisa ditegakkan. Siapa yang tak berkenan, berarti siap sedia menanggung resiko sendiri. Juga tak boleh memaksakan kehendak kepada mereka yang ingin tertib menegakkan protokol kesehatan agar menjauh dari resiko tertular.

Tentang indeks yang diukur dari jumlah kematian selama seminggu terakhir pada tiap 1000 jiwa per km2 suatu daerah, sebetulnya sekedar menggambarkan probabilitas.

Bahwa semakin padat suatu ruang, dan semakin tinggi pula indeks kematiannya, maka semakin besar resiko peningkatan kasus dan kematian di sana.

Daerah-daerah di Jawa Barat yang mencatat indeks 0 saja — kab. Cianjur, Majalengka, Subang, dan Sukabumi — tetap membutuhkan sistem pelacakan kontak yang berbasis teknologi handal. Walaupun mereka sudah dapat melonggarkan kebijakan pengetatannya.

Apalagi daerah yang indeksnya mengkhawatirkan, seperti kab. Garut (411), Purwakarta (173), Karawang (96), Kuningan (74), Pangandaran (64), Bandung (64), dan Indramayu (56).

Tanpa pelacakan memadai — di tengah pengelolaan pembatasan kegiatan yang banyak amburadulnya sekarang ini — sangat mungkin daerah-daerah yang kini mencatat indeks rendah itu, tiba-tiba melonjak tajam.(*Mardhani. Jilal )

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close