#iniruangkuKajian

Bubarkan BBWS Karena Membunuh Cadangan Air

Deklarasi Per Tanggal 27 Juli 2021, BBWS Resmi Dibubarkan Karena Membahayakan Masa Depan Jakarta Dari Ketahanan Terhadap Banjir dan Cadangan Air

MediaTataRuang – Sepuluh tahun berlalu sejak ditetapkannya Hari Sungai Nasional pada 27 Juli 2011 melalui PP Sungai,Peraturan Pemerintah No 38 tahun 2011 pasal 74 tentang penetapan hari sungai , namun tidak ada kemajuan berarti dalam pemulihan dan tata kelola sungai Indonesia. Faktanya, Bencana banjir dan kekeringan merata hampir di seluruh pelosok nusantara di setiap musim hujan dan kemarau. Sungai bukan menjadi sumber kehidupan bagi warga, namun telah dikemas menjadi nilai proyek infrastruktur, sumber bencana dan fasilitas gratis untuk pembuagan limbah industri.

Penyerapan anggaran terbesar didominasi oleh pemegang otoritas sungai pemerintah pusat di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS ), kebijakan tata kelola sungai hanya diterjemahkan ke dalam besaran nilai proyek infrastruktur massif di badan sungai seperti pembangunan DAM Bendungan dan Tanggul Betonisasi Sungai.  

Terbukti, pengelolaan sungai di bawah Kemen PUPR telah mengerdilkan urusan sungai hanya pada persoalan bagaimana mengatasi banjir dengan pemikiran instan dengan betonisasi sungai supaya mempercepat aliran air ke laut.

Sungai hanya dianggap saluran drainase pembuangan air kotor, maka sungai dialihfungsikan menjadi bangunan kanal-kanal beton

Perspektif secepat-cepatnya membuang air sungai ke laut adalah perspektif usang warisan kolonialisme dimana Pekerjaan Umum dulunya bernama Dept. van Burgerlijke Openbare Werken atau BOW sering dipelesetin Batavia Onder Water karena dianggap ‘gak becus’ urus banjir. Dari sejarah banjir Batavia dan pembangunan Kanal Banjir Barat dan rencana Kanal Banjir Timur karena konsekuensi dari alih fungsi pemanfaatan lahan di hulu pembukaan hutan menjadi luasan kebun-kebun komoditi karet, tebu, teh dan kopi.

Akar persoalan banjir adalah besarnya beban limpasan air koefisien run off akibat perubahan dan inkonsistensi perlindungan tata ruang di kawasan hulu diteruskan sampai saat ini tanpa sedikitpun intervensi berarti terhadap laju kerusakan daerah tangkapan air (water catchment area), dari data Forest Watch Indonesia tutupan hasil temuannya tahun 2016 terkait kondisi tutupan hutan di hulu DAS Ciliwung yang tersisa kurang dari 12 persen dan secara keseluruhan 29 ribu hektare, dan data keseluruhann hulu-hilir kurang dari 8 % dari total luas Kawasan DAS yang mencapai 38 ribu hektar.  Kondisi ini tidak sesuai dengan yang diamanatkan di dalam  undang-undang, dimana keberadaan hutan sebagai daerah resapan air yang optimal harus mempunyai luasan yang cukup dengan sebaran proposional, minimal 30 persen dari luas DAS. 

Kejadian kekeringan di Bogor ditandai dengan menurunnya tinggi muka air (TMA) di Sungai Ciliwung. Hari ini 26 Juli 2021 TMA Bendungan Katulampa Bogor menunjukkan titik terendah, yaitu 0 cm. Kondisi kering 0 cm menjadi ritual tahunan bulan Mei- September Artinya debit air yang masuk ke Sungai Ciliwung 0 liter perdetik (kebutuhan ekosistem), sebaliknya ketika hujan deras sebentar TMA bisa melonjak ke Siaga II 200 cm, kondisi ini memperlihatkan bahwa daya dukung lingkungan wilayah hulu das Ciliwung tidak lagi mampu melindungi daerah di hilirnya, khususnya dalam hal penyediaan sumber air dan pengendalian banjir Jakarta.

Abainya pemerintah dalam tata kelola ruang dan manajemen sumber daya air, tentu saja solusi banjir Jakarta dengan proyek infrastruktur masif pembangunan 2 Waduk Dry Dam di kawasan Puncak Kab. Bogor yaitu Waduk Ciawi Cibogo dan Sukamahi, serta abnormalisasi sungai/betonisasi sungai Jakarta adalah solusi palsu yang justru memperburuk banjir dan masa depan ketahanan kita menghadapi krisis iklim dimana musim kemarau semakin panjang dan hujan dengan intensitas curah hujan ekstrim yang tidak lagi bisa diprediksi.

Waduk Dry Dam di kawasan hulu tidak menjawab ancaman kekeringan dan ancaman konflik air di masa akan datang, belum lagi jumlah sampah yang dihasilkan kawasan Puncak di aliran sungai akan memberi dampak pada kinerja waduk Dry Dam sedimentasi sampah,  besaran PAD dari sektor wisata Puncak tidak diimbangi dengan anggaran penanganan sampah di Kawasan Puncak dimana jumlah armada pengangkutan sampah sangat kurang, hanya melayani sampah pengusaha hotel dan restoran di jalur besar jalan raya puncak, di luar jalur utama semua sampah dipastikan dibuang ke anak sungai yang bermuara ke Ciliwung, baik sampah hotel villa, sampah pasar Cisarua, maupun sampah domestik warga.

Jakarta Skak Mat City

Bagaimana dengan solusi banjir Jakarta yang digadang-gadang disebut Proyek Normalisasi Sungai ?,  menormalkan kembali penampang sungai dengan mengeruk, melebarkan, mentransformasi sungai menjadi kanal beton hingga mampu menampung mengalirkan debit air Q50 atau 500 m3/detik, kelebihan beban sungai dapat secepat-cepatnya dibuang ke laut.

Tentu saja ini adalah penyesatan informasi, merupakan solusi palsu yang akan mengancam memperparah banjir mengancam ketahanan masa depan Kota Jakarta, Pada praktek pelaksanaanya adalah abnormalisasi sungai Jakarta, kampung-kampung sungai digusur dituduh sebagai penyebab banjir dan ruang banjir sempadan sungai yang awalnya adalah kawasan hijau ruang parkir air ketika sungai meluap malah disesaki dengan bangunan baru tembok besar beton, pohon-pohon besar digusur  diganti sheetpile dan jalan raya beton yang dinamai jalan inspeksi. Sempadan sungai sebagai penguasaan ruang hak sungai menjadi sempit, Ini menjadi kontradiktif dengan klaim tujuan normalisasi sungai memperbesar daya tampung sungai.

Jakarta SKAK MAT City

Kota Jakarta sebagai kota dengan garis pantai dan laut, penyesatan informasi juga terjadi dengan pengabaian adanya variabel jadwal pasang air laut 1×24 jam Jakarta harus berhadapan dengan kenaikan pasang air laut dan pasang besar bulan purnama dan hilal 2x setiap bulan.

Paradigma secepat-cepatnya membuang air ke laut dengan normalisasi sungai tidak relevan ketika ketemu jadwal laut pasang naik, air sungai tentu terhambat keluar muara sungai karena terhambat masuknya air laut oleh hukum massa dan momentum back water (gambar skakmat city, titik 3).

(gambar skakmat city, titik 1 ) Penempatan Proyek betonisasi kanalisasi sungai pada kawasan selatan hulu Jakarta di atas segmen Pintu Air Jakarta dengan kemiringan sudut elevasi kontur tajam,   menjadikan aliran sungai seperti perosotan air, ketika debit sungai besar aliran air menjadi semakin deras dan kencang daya rusak mengancam kawasan hilir dibawahnya mengalami akumulasi banjir yang semakin parah.

(gambar skakmat city, titik 2) Jakarta memusuhi air, Jakarta sebagai kota delta yang lahir dari sungai, daratan kota Jakarta terbentuk dari sedimentasi sungai yang disebut tanah Aluvial secara alamiah mengalami pemadatan struktur tanah,  yang berakibat  penurunan muka tanah ‘sinking’, penurunan muka tanah juga diakibatkan ekstrasi air tanah secara berlebihan oleh pelaku komersil seperti gedung perkantoran, mal dan hotel. Ketika Jakarta durhaka terhadap sungai dengan betonsiasi sungai juga menjadi salah satu faktor menghambat resapan cadangan air tanah yang harusnya bisa dibasahi oleh sungai. Air secepat-cepat mengalir ke laut tanpa sempat diserap.

Selamatkan Masa Depan Jakarta, Moratorium Penghentian Betonisasi Sungai Yang Pengerjaan Sudah Berjalan 50%

Pengerjaan abnormalisasi sungai ini sejak tahun 2013, dan terhenti sementara tahun 2017 karena adanya penolakan warga dan pro dan kontra ‘betonisasi sungai Vs naturalisasi sungai’ antara pemerintah pusat dan pemerintah provinsi DKI. Namun issue ini pada akhirnya hanya menjadi gimik politik, tanpa ada sesuatu apapun yang dikerjakan sejak terhenti tahun 2017.

Dari pengakuan BBWS bahwa proyek abnormalisasi sungai ini dari 19 km panjang sungai yang dikerjakan (dari ruas Tb.Simatupang- sampai ruas pintu air Manggarai), dari 33 km (kanan kiri sungai) 16 km sudah dibeton.

Ada signal bahwa proyek abnormalisasi sungai akan dilanjutkan oleh pemerintah pusat sebagai pemegang otoritas sungai yaitu Balai Besar Wilayah Sungai dibawah Kementerian Pekerjaan Umum.

Maka demi masa depan Jakarta, pada peringatan Hari Sungai 27 Juli 2021, Ciliwung Institute sebagai warga konservasi sungai, mendeklarasikan Pembubaran Balai Besar Wilayah Sungai yang kami anggap sebagai bagian dari masalah dan persoalan penyelamatan sungai.

Ciliwung Institute memberikan mosi tidak percaya kepada Balai Besar Wilayah Sungai sebagai pemegang otoritas kebijakan tata kelola sungai di Indonesia.

Konsekuensi dari pembubaran BBWS, bahwa Ciliwung Institute menganggap bahwa lembaga BBWS telah dibubarkan dan tidak ada kerjasama dalam bentuk apapun dengan BBWS yang telah dibubarkan.

Rekomendasi dari Pembubaran BBWS

Otoritas pengelolaan sungai dilimpahkan ke masing-masing pemerintah daerah dengan koordinasi forum stakeholder hulu hilir, beserta payung hukum pelimpahan otoritas sungai dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.

Audit tata ruang berbasis DAS, /water catchment area / watershed/ River Basin.

Konsep Berbagi Ruang, Jakarta sebagai pemerintah daerah hilir tidak bisa mengatur berapa banyak air yang turun dari hulu, yang bisa dilakukan adalah mengalokasikan wilayah-wilayah yang diadaptasi sebagai waduk rawa ataupun wilayah pasang surut air (parkir air), sempadan sungai, taman, ketika musim hujan menjadi tempat retensi air, ketika musim kemarau menjadi ruang publik atau taman. Jakarta tidak lagi memusuhi sungai tapi berbagi ruang dengan air.

Memasukan issue Krisis Iklim dan Ketahanan Air pada Model Pembangunan, Cabut Dirjen Sumber Daya Air dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan bentuk Kemeterian Sumber Daya Air yang berkoordinasi dengan Kementerian Agraria/Tata Ruang, Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan dengan Pemerintah Daerah dan Forum Stakeholder DAS hulu-hilir.

Buka Partispasi publik dalam tata kelola sungai dengan menghidupkan kembali pangkalan-pangkalan sungai sebagai akses kampung-kampung.

Jakarta, 27 Juli 2021

Selamatkan Tanah dan Air Indonesia

Koordiantor Ciliwung Institute

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close