#iniruangkuHeadLine

Pentingnya Mangrove

Masihkah Menganggap Ekosistem Mangrove Tak Penting ?

Mediatataruang.com – Saat kecil dulu sampai sekarang kita selalu mendapatkan informasi tentang bagaimana proses fotosintesis menghasilkan O2 yang dipergunakan mahluk hidup diatas bumi ini untuk bernafas dan kita percaya mungkin satu satunya yang menghasilkan O2 itu hasil fotosintesis pada tetumbuhan. Padahal ada organisme lain yang menghasilkan lebih dari 50% kebutuhan O2 mahluk hidup dibumi yang bukan tetumbuhan melainkan mikro-organisme kecil lautan yang bernama fitoplankton.

Fitoplankton mampu menghasilkan sekitar 50-85 persen oksigen di Bumi per tahun, sedangkan tumbuhan (pohon) hanya menghasilkan sekitar 20 persen saja. Fitoplankton berperan sebagai indikator kontaminasi dan kualitas air, sekaligus sebagai produsen dalam rantai makanan karena mampu meyediakan makanan sendiri. Fitoplankton memperoleh energi melalui proses fotosintesis, menyerap karbondioksida di atmosfer, dan mengubahnya menjadi oksigen.

Bisa dibayangkan jika terjadi gangguan pada ekosistem perairan, ketika terjadi kondisi seperti itu, oksigen yang diproduksi fitoplankton ketika sedang banyak-banyaknya sekarang digunakan bakteria untuk merombak biomassanya. Sehingga perairan itu menjadi kekurangan oksigen. Pemburukan kualitas perairan tempat fitoplankton berada juga dapat memicu munculnya jenis-jenis fitoplankton yang berbahaya, hal ini karena terganggunya ekosistem perairan salah satunya akibat dari kerusakan magrove.

baca juga Pencanangan Padat Karya Mangrove Dalam Rangka PEN di Provinsi Sumatera Selatan

Keberadaan fitoplankton pada ekosistem mangrove memberikan kontribusi besar terhadap produktivitas primer setelah serasah mangrove. Hal tersebut juga sangat didukung oleh faktor lingkungan yaitu fisika kimia perairan.

Berdasarkan penelitian yang terdapat pada buku Satu Dekade Balai Penelitian dan Observasi Laut 2005 – 2015 (pp.79-91)Balai Penelitian dan Observasi Laut, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan. Dilakukan untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap struktur komunitas plankton pada ekosistem hutan mangrove Muara Angke, Jakarta Utara. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kelimpahan fitoplankton dan zooplankton di hutan mangrove Muara Angke berkisar antara 236-4.882 ind/l dan 236-9.9921 ind/l.

Struktur komunitas plankton didominasi oleh Pelagothrix sp. dari kelas cyanophyceae, dan Brachionus sp.dari kelas rotifera. Species yang jarang ditemui baik fitoplankton maupun zooplankton di seluruh stasiun pengamatan adalah Gyrodinium sp. (Dinophyceae) dan Favella sp. (Cilliata).

Berdasarkan penelitian tersebut, untuk menganalisa faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap struktur komunitas plankton di setiap stasiun digunakan analisa komponen utama (PCA). Hasil analisa komponen utama menunjukan bahwa stasiun 3 dan 5 lebih dicirikan oleh salinitas, stasiun 2 oleh pH dan DO, stasiun 6 dan 7 oleh fosfat serta stasiun 1 dan 4 dicirikan oleh total padatan tersuspensi (TSS).

Ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang kompleks dan terdiri atas berbagai macam parameter yang saling berpengaruh satu sama lainnya. Beberapa parameter tersebut antara lain parameter fisika, kimia dan biologi.

baca juga BPDASHL Cimanuk-Citanduy Kawal Program PEN Padat Karya Mangrove di Indramayu

Plankton sebagai salah satu parameter biologi dipengaruhi oleh parameter lainnya dan merupakan mata rantai yang sangat penting dalam menunjang kehidupan organisme lainnya (Ginting, 2016).

Ekosistem mangrove merupakan sumberdaya alam hayati yang memiliki manfaat penting baik dari aspek ekologi maupun aspek sosial
ekonomi. Ditinjau dari aspek ekologi, mangrove dihuni oleh beragam jenis biota baik yang hidup diperairan maupun yang berasal dari daratan.

“Kawasan mangrove merupakan tempat yang ideal bagi fitoplankton untuk hadir dan mengawali kehidupan, karena tersedia tempat dan nutrien yang memadai”

Ekosistem mangrove ini mempunyai fungsi salah satunya adalah fungsi ekologis yaitu sebagai tempat pemijahan (spawningground), tempat pembesaran (nursery ground), dan mencari makan (feedingground)bagi berbagai jenis hewan seperti ikan, udang, kepiting, moluska, reptilia, mamalia dan burung (Pramudji, 2001).

Menjadi kita sadar bahwa keberadaan ekosistem magrove mempunyai posisi sangat penting terhadap ketersediaan oksigen selain tetumbuhan, karena magrovelah ekosistem pesisir dan laut akan tetap terjaga berkelanjutan, masihkah kita ragu akan pentingnya keberadaan magrove? (*Juniar Ilham)

Tags

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close