#iniruangkuHeadLine

Saling Tuding

Mediatataruang.com – Arti kata tuding dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pertama, miring arah ke bawah (menikam, menembak, menunjukkan ke lereng, dan sebagai nya); kedua, meruncing tajam (lancip), tetapi merupakan sudut tumpul (mata pisau, mata pahat, dan sebagai nya) atau tunjuk; menunjuk.

Dalam kehidupan sehari-hari, saling tuding, bukanlah hal yang aneh, terutama dalam melakukan pembelaan diri atas sebuah kesalahan. Seseorang, cenderung tidak mau disalahkan. Biasa nya akan mencari kambing hitam untuk mengalihkan perhatian. Itulah salah satu sifat manusia yang selalu merasa benar atas apa-apa yang telah dilakoni nya.

Dalam beberapa hari belakangan ini kembali publik dihebohkan oleh ada nya pandangan yang berbeda antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan dalam hal harga jagung. Ke dua Kementerian ini beda pendapat soal penyebab kenaikan harga jagung.

Seperti diketahui, harga jagung untuk komoditas pakan hewan ternak menjadi sorotan publik menyusul adanya peternak yang mengeluhkan tinggi harga jagung ke Presiden Joko Widodo. Presiden pun langsung menugaskan Kementan dan Kemendag untuk menyediakan jagung sebanyak 30.000 ton dengan harga Rp 4.500 per kilogram. Lucu nya, dihadapan para Wakil Rakyat, soal penyebab kenaikan harga jagung tersebut, Kementan dan Kemendag ternyata beda pendapat.

Berbeda pendapat memang tidak diharamkan, selama perbedaan itu mampu memberikan berkah kehidupan. Namun sebalik nya, bila perbedaan tersebut malah menciptakan tragedi kehidupan, maka menjadi kewajiban kita bersama untuk segera meluruskan nya lagi. Begitu pun soal meroket nya harga jagung untuk pakan ternak. Pejabat di Kementan dan Kemendag, sebaik nya mampu menahan diri untuk tidak mengumbar kata-kata yang membingungkan masyarakat.

baca juga Jebakan Peningkatan Produksi

Bukankah akan lebih cantik bila mereka duduk bersama untuk selanjut nya ngobrol bareng sekaligus mencarikan solusi terbaik nya. Hal ini penting dicatat, karena perbedaan pendapat antar pejabat yang sama-sama disumpah oleh Presiden, mesti nya tidak perlu dibuka ke ruang publik. Selesaikan perbedaan itu dengan penuh tanggungjawab, sehingga tidak ada yang merasa terciderai.

Lebih sedih lagi bila para pejabat itu saling tuding, sambil berargumen dengan kehebatan nya masing-masing. Diri nya, seolah-olah yang paling tahu. Dengan suara lantang dikatakan, tidak mungkin harga jagung akan meroket, bila jagung nya memang ada. Di sisi lain, ada pejabat yang menyebut, jagung itu ada sekian juta ton. Atas alasan yang demikian, wajar bila rakyat pun menjadi bingung.

Pejabat mana yang harus diikuti ? Apakah yang yakin dengan ketersediaan jagung untuk pakan ternak atau pejabat yang menyangsikan jumlah jagung tersebut ? Hanya, kalau kita cermati fenomena yang ada selama ini, boleh jadi jagung nya belum ada. Kalau pun ada, biasa nya akan disembunyikan terlebih dahulu. Bila berita nya sudah viral, maka jagung tersebut akan muncul dengan sendiri nya. Harga pun otomatis akan melorot.

Sadar akan hal yang demikian, ketimbang ribut berpolemik, Kementerian Pertanian lebih baik mengirimkan bantuan jagung untuk pakan ternak ini ke daerah-daerah yang sekarang memerlukan nya. 1000 ton jagung pun langsung di kirim ke Blitar, daerah Jawa Tengah dan Lampung. Gerak cepat yang ditempuh Kementerian Pertanian ini, tentu menyelamatkan muka Presiden Jokowi yang telah berjanji ke para peternak untuk secepat nya menangani soal mahal dan langka nya jagung bahan pakan ternak.

Catatan kritis yang dapat disampaikan mengapa Pemerintah masih doyan menerapkan pendekatan sebagai “pemadan kebakaran” dari pada mulai mengembangkan pendekatan “deteksi dini ” ? Bukankah akan lebih tenang dan tidak perlu heboh bila sejak jauh-jauh hari kita sudah dapat mengantisipasi persoalan-persoalan yang bakal menghadang ?

Meroket nya harga jagung untuk pakan ternak dan melorot nya harga telur, merupakan soal serius yang dalam beberapa hari lalu menghantui kehidupan para peternak rakyat. Lemah nya simpul koordinasi yang ada sekarang, membuat Pemerintah lambat bergerak. Kesadaran untuk menjembut masalah yang tengah dihadapi rakyat, juga belum biasa dilakukan. Baru setelah ada perintah dari Presiden, atau setelah viral di media sosial, mereka mulai bergerak.

Pertanyaan nya adalah mengapa harus menunggu ramai dahulu, baru mulai dicarikan solusi nya ? Selanjut nya, bila Presiden tidak mengetahui, karena tidak ada yang melaporkan nya, apakah para pejabat yang memiliki tanggungjawab karena tugas dan fungsi nya akan berpangku-tangan saja ?

Cepat tanggap nya Pemerintah dalam mensolusikan masalah yang tengah dihadapi masyarakat, pada dasar nya merupakan tuntutan yang dimintakan rakyat. Masyarakat jangan lagi disuguhi informasi yang membingungkan. Apalagi bila diwarnai oleh perdebatan para pejabat Pemerintah yang tidak memberi langkah pemecahan nya. Stop saling tuding.

Ayo carikan solusi cerdas, sehingga masyarakat menjadi terobati. Ayo berikan jawaban konkrit, sehingga rakyat tidak bertanya-tanya. Era kini sudah berubah. Rakyat betul-betul menanti solusi. Rakyat jangan disodori wacana semata. Lahirkan kebijakan yang membahagiakan rakyat. Hapuskan segala cara yang membuat masyarakat kebingungan.

Sekali pun pertanian tidak pernah ingkar janji, namun bila kita cermati perilaku beberapa komoditas nya, seringkali membuat geger bangsa ini. Di awal tahun misal nya, kita diramaikan dengan isu impor beras. Di satu sisi ada pejabat yang menginginkan impor, namun di sisi yang lain ada pejabat yang menuntut agar tidak impor. Polemik pun berkepanjangan. Bila Presiden Jokowi tidak turun tangan, boleh jadi tidak akan ada akhir nya.

Lalu, soal meroket nya harga jagung untuk pakan ternak. Perdebatan berlangsung. Setiap pejabat Kementerian adu argumen. Dihadapan DPR, mereka bicara cukup keras. Alasan demi alasan disampaikan. Seperti nya, diri nya tidak ada yang keliru. Sekali lagi, kalau Presiden Jokowi tidak cepat-cepat mengambil bola, bisa saja masalah inibtidak terselesaikan.

Sebelum nya, kita juga dihangatkan oleh sulit nya pengrajin tahu tempe mendapatkan kedele impor dari Amerika. Kalau pun ada, harga nya cukup mahal. Setiap tahun, kedele juga sering bermasalah. Hal baru yang sering menghebohkan juga adalah soal cabe dan bawang.

Saling tuding dalam menyikapi suatu masalah sebaik nya dihentikan. Yang dibutuhkan rakyat adalah jalan keluar nya. Rakyat tidak butuh segudang teori yang menjelaskan mengapa sebuah masalah itu mengedepan, namun yang lebih diharapkan masyarakat adalah sampai sejauh mana para pengambil kebijakan di bidang pangan ini, mampu menawarkan pilihan kepada rakyat guna menjawab masalah yang ada.  (*Entang Sastraatmadja, Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close