#iniruangkuHeadLine

Memudarnya Kharisma Penyuluh Pertanian

Mediatataruang.com – Penyuluh Pertanian dianggap sebagai salah satu unsur penting dalam meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian. Sebagai guru nya petani, Penyuluh Pertanian memiliki peran dan tanggungjawab untuk melaksanakan proses pembelajaran, pemberdayaan dan pemartabatan terhadap petani beserta keluarga nya.

Arti nya, ada dua tujuan penting dalam program Penyuluhan Pertanian yang selama dikembangkan, yaitu dalam jangka pendek tercipta nya perubahan perilaku (sikap, tindakan dan wawasan) ke arah yang lebih baik, dan kedua, terjelma nya peningkatan kesejahteraan petani nya.

Pada jaman nya, Penyuluh Pertanian merupakan sosok yang cukup bergengsi dalam kehidupan masyarakat perdesaan. Seorang Penyuluh Pertanian Spesialis dengan Toyota Hardtop nya betul-betul jadi pria pujaan bagi para gadis perdesaan. Akibat nya, tidak mengherankan bila para orang tua sang gadis, sangat merelakan putri nya untuk dijadikan istri sang Penyuluh Pertanian.

Begitu pun dengan para Penyuluh Pertanian Madya atau Penyuluh Pertanian Lapangan. Mereka dengan motor trail nya memciptakan citra sendiri dalam kehidupan warga perdesaan. Pokok nya saat itu, kehadiran Penyuluh Pertanian sebagai guru nya petani, benar-benar memiliki tempat khusus di mata masyarakat perdesaan.

Kesungguhan para Penyuluh Pertanian dalam meningkatkan kinerja nya, terbukti bukan hanya sekedar kemauan semata. Hanya dalam beberapa tahun saja, keberadaan Penyuluh Pertanian bersama para tokoh tani andalan dan kontak tani, ternyata mampu membuahkan prestasi tingkat dunia yang membanggakan. Banyak warga dunia yang terkesima ketika itu. Mereka seperti yang tidak percaya, Indonesia mampu mengukir prestasi Swasembada Beras pada tahun 1984.

Prestasi ini telah dijadikan teladan oleh Badan Pangan Dunia (FAO) atas keberhasilan bangsa Indonesia menggenjot produksi padi nya. Bayangkan, bagaimana mereka tidak akan angkat jempol, negara kita yang semula dikenal sebagai salah satu impotir beras yang cukup besar di dunia, hanya dalam beberapa saat saja, mampu berswasembada.

Kisah sukses dan Proklamasi Swasembada Beras 1984, benar-benar telah mampu merubah citra negara dan bangsa Indonesia di mata dunia. Sejak saat itu, banyak negara yang sedang membangun pertanian, melirik keberhasilan negara kita. Mereka banyak yang datang berguru. Mereka ingin belajar banyak mengapa Indonesia mampu swasembada beras ? Strategi, Kebijakan, Program dan Kegiatan seperti apa yang dikembangkan nya ?

Bahkan tidak jarang negara-negara tetangga pun banyak yang mengirimkan para mahasiswa nya untuk menuntut ilmu pertanian di Indonesia. Pertukaran petani antar negara semakin banyak dilakukan. Semua ini menggambarkan, apa yang kita tempuh dalam memacu pembangunan pertanian, telah senafas dengan harapan dari lembaga internasional yang selama ini banyak membantu kita, baik dalam transfer teknologi dan inovasi atau pun dukungan keuangan nya.

Pencapaian Swasembada Beras 1984, bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah diraih. Tdak juga merupakan hadiah dari FAO atau Bank Dunia yang ingin menunjukkan kepada dunia bahwa model bantuan nya dinilai berhasil. Swasembada Beras adalah sebuah prestasi bangsa yang harus ditebus dengan kerja keras dan cucuran keringat para petani.

Tiga serangkai pencetak Swasembada Beras : PENELITI-PENYULUH-PETANI, merupakan faktor penentu keberhasilan ini, disamping juga ada nya komitmen Pemerintah yang sepenuh hati menopang nya. Kolaborasi tiga serangkai dalam menerapkan inovasi, terlihat mampu memacu peningkatan produksi padi secara signifikan.

Dukungan yang diberikan, bukan hanya sekedar topangan kebijakan, namun disertai pula dengan dukungan anggaran yang maksimal. Mulai Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota, Camat dan Kepala Desa, semua turun ke lapangan sekaligus memberi suport yang optimal bagi pencapaian Swasembada Beras.

Hampir 40 tahun, kita lalui pengalaman yang cukup membanggakan itu. Swasembada beras, kini menjadi kenangan terindah dalam dunia pembangunan di Tanah Merdeka. Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita ribut terus soal impor beras, padahal yang semesti nya kita gairahkan adalah bagaimana mengembalikan keperkasaan bangsa dalam meraih Swasembada Beras.

Bukan cuma Swasembada Beras yang tidak bisa lagi kita lestarikan, namun karisma para Penyuluh Pertanian pun kini tampak mengalami pemudaran. Para Penyuluh Pertanian tidak lagi sehebat jaman keemasan nya di masa lalu, namun dengan ada nya perubahan regulasi setingkat Undang Undang, Penyuluh Pertanian seperti yang kurang diperhatikan secara serius.

Kiprah 3 serangkai kunci sukses Swasemvada Beras, seperti nya sukar untuk dikembalikan tatkala kita memproklamirkan Swasembada Beras 1984. Saat ini, masing-masing pihak asyik dengan dunia nya sendiri. Peneliti asyik dengan pencarian angka kredit sebesar-besar nya untuk dapat naik golongan lebih cepat. Begitu para Penyuluh Pertanian.

Di lapangan Penyuluh kurang fokus terhadap tugas dan fungsi utama nya, karena harus mengawal berbagai proyek yang dirancang para Eselon 1 di Kementerian Pertanian. Sedangkan para petani nya sendiri, saat ini banyak yang merana, karena ketidak-pastian pendapatan yang mereka peroleh. Petani lebih memikirkan bagaimana agar pada saat musim tanam tiba, mereka tidak menghadapi kelangkaan pupuk.

Atau mereka berharap agar pada saat panen raya, harga gabah tidak melorot dengan drastis, dikarenakan penanganan paska panen yang kurang berkualitas, sekaligus ada nya permainan tengkulak yang sering mempermainkan harga di tingkat petani. Kesimpulan nya, tiga serangkai ini, hanyalah tinggal nama dalam kamus pembangunan pertanian kita.

Memudar nya karisma Penyuluhan Pertanian, mesti nya tidak perlu terjadi di negeri yang pernah berjaya dengan Swasembada Beras nya. Siapa pun yang memimpin negeri dan bangsa ini, sudah sewajar nya menjadikan Penyuluh Pertanian sebagai pembawa pedang samurai dalam rangka peningkatan produksi pertanian di negeri ini. Penyuluh Pertanian butuh perhatian lebih nyata lagi. Bukan cuma jadikan slogan atau hiasan pidato pejabat dengan segudang kehebatan nya. (*Entang Sastraatmadja, Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close