#iniruangkuHeadLine

Peneliti Ungkap Perubahan Iklim Telah Membuat Bumi Semakin Redup

Mediatataruang.com – Dengan menggunakan satelit, Peneliti melihat alasan mengapa bumi menjadi lebih gelap. Ternyata Tim peneliti menemukan awan yang menghilang di Pasifik jadi penyebab bumi kehilangan cahayanya.

Peneliti juga mengatakan perubahan iklim telah membuat bumi semakin redup sehingga perubahan iklim menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi manusia bila tidak segera mengurangi emisi karbon. Penelitian ini dipublikasikan di Geophysical Research Letters.

Dengan meningkatnya emisi karbon hasil pembakaran dari energi fosil seperti batu bara dan minyak bumi mengakibatkan perubahan iklim sehingga membuat suhu bumi meningkat.

“Penurunan albedo (proporsi cahaya datang atau radiasi yang dipantulkan permukaan) sangat mengejutkan saat kami menganalisa data tiga tahun terakhir dari 17 tahun albedo hampir datar,” sebut peneliti di New Jersey Institute of Technology dan pemimpin studi ini, Philip Goode, seperti dikutip dari Gizmodo, Sabtu (9/10/2021).

Penelitian terbaru dari Amerika Serikat (AS) menyebutkan jika tidak ada perubahan, maka 95% permukaan laut Bumi menjadi tak layak huni pada 2100. Laut yang lebih panas, lebih asam, dan memiliki lebih sedikit mineral yang dibutuhkan bagi kehidupan laut untuk berkembang menjadikan laut tidak layanan huni bagi mahkluk laut.

Menurut penulis utama dari penelitian ini Katie Lotterhos dari Pusat Ilmu Kelautan Universitas Northeastern, perubahan komposisi lautan sebagai akibat dari polusi karbon kemungkinan akan mempengaruhi semua spesies permukaan.

“Dalam beberapa dekade mendatang, komunitas spesies yang ditemukan di satu wilayah akan terus bergerak dan berubah dengan cepat,” ujarnya.

Salah satu dampak perubahan iklim adalah matinya karang. Saat El Nino tahun 2016, air hangat mengancam terumbu karang di Great Barrier Reef (GBR), seperti dikutip dari Nature World News.

Penelitian lain datang dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang mencatat jumlah bencana, seperti banjir dan gelombang panas (heatwave), akibat perubahan iklim meningkat lima kali lipat selama 50 tahun terakhir. Deretan bencana ini juga menewaskan lebih dari 2 juta orang dan menelan kerugian total US$ 3,64 triliun atau sekitar Rp 51.981 triliun (asumsi Rp 14.200/US$).

Dalam laporan terbarunya, organisasi di bawah naungan PBB itu mengatakan mereka melakukan tinjauan paling komprehensif tentang kematian dan kerugian ekonomi akibat cuaca, air, dan iklim ekstrem yang pernah dihasilkan.

Ini mensurvei sekitar 11.000 bencana yang terjadi antara 1979-2019, termasuk bencana besar seperti kekeringan 1983 di Ethiopia, peristiwa paling fatal dengan 300.000 kematian, dan Badai Katrina di Amerika Serikat (AS) pada 2005 yang membuat kerugian US$ 163,61 miliar.

Laporan tersebut menunjukkan tren yang semakin cepat, dengan jumlah bencana meningkat hampir lima kali lipat dari tahun 1970-an hingga dekade terakhir. Ini menambah tanda-tanda bahwa peristiwa cuaca ekstrem menjadi lebih sering karena pemanasan global.

WMO mengaitkan frekuensi yang meningkat dengan perubahan iklim dan pelaporan bencana yang lebih baik. Biaya dari peristiwa tersebut juga melonjak dari US$ 175,4 miliar pada 1970-an menjadi US$ 1,38 triliun pada 2010-an ketika badai seperti Harvey, Maria dan Irma melanda AS.

“Kerugian ekonomi meningkat seiring meningkatnya eksposur,” kata Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas, dikutip dari Reuters.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close