#iniruangkuHeadLine

Tatkala Lahan Pertanian Teriak “Sakit” !

Mediatataruang.com – Sudah beberapa puluh tahun ke belakang, lahan pertanian digunjingkan banyak pihak. Mulai dari ada nya alih fungsi yang semakin membabi-buta hingga ke persoalan kesehatan lahan yang merosot tajam. Di beberapa daerah, alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian terekam semakin merisaukan. Seringkali aturan yang ada, hanya menjadi penghias regulasi semata. Ironis nya, para pengambil kebijakan sendiri tampak seperti yang tidak peduli. Mereka asyik saja dengan kepentingan nya, yang seolah-olah memakai kaca mata kuda.

Kalau saja dapat berteriak dengan lantang, boleh jadi “LAHAN PERTANIAN” akan menggelar orasi di depan Gedung Sate atau di Gedung DPR/MPR tentang kondisi nya saat ini. Andaikan ” LAHAN PERTANIAN” mampu mengucurkan air mata, besar peluang nya mereka untuk datang berbondong-bondong ke Istana Negara guna mengadukan nasib nya. Bahkan jika “LAHAN PERTANIAN” bisa menulis, dijamin halal mereka pun bakal menggiring opini publik di media massa terkait dengan keadaan yang menimpa diri nya.

Sayang nya, “LAHAN PERTANIAN” hanyalah hamparan-hamparan tanah yang tidak mampu bicara, tidak dapat mengucurkan air mata dan tentu saja tidak akan bisa menorehkan kata dan kalimat. Namun begitu, “LAHAN PERTANIAN” tetap menjadi sumber kehidupan dan penghidupan sebagian besar warga bangsa yang ada di muka bumi ini.

“LAHAN PERTANIAN” inilah yang dijadikan lokasi untuk memberi kehidupan bagi kita semua. Penjagaan lahan pertanian agar tidak menjadi keserakahan segelintir orang, perlu dijadikan komitmen polituk, siapa pun yang mengelola negeri dan bangsa tercinta. Hal ini penting, karena di “LAHAN PERTANIAN” tersebut dapat kita saksikan bagaimana para petani kita bercocok-tanam padi, jagung, kedele, singkong, pisang, bawang, wortel, kentang , dan lain sebagai nya.

Mereka secara ikhlas pergi ke sawah pada pagi hari dan pulang ke rumah sore hari. Mereka relakan cucuran keringat membasahi seluruh tubuh nya menyambut sengatan matahari. Mereka tidak pernah menuntut atau protes keras manakala para Penyuluh Pertanian menganjurkan agar mereka memupuk sawah ladang nya dengan pupuk-pupuk an organik.

Mereka benar-benar menjadikan “LAHAN PERTANIAN” sebagai tumpuan kehidupan nya. LAHAN PERTANIAN inilah yang menyambungkan nyawa mereka dari hari ke hari nya. Oleh karena itu menjadi tugas dan kewajiban kita bersama untuk menjaga dan memelihara nya agar “LAHAN PERTANIAN” tetap subur dan selalu memberi berkah bagi mereka yang mengelola nya.

Yang membuat kita nelangsa, ternyata dalam beberapa tahun belakangan ini, tersiar kabar bahwa di beberapa daerah “LAHAN PERTANIAN” banyak yang tidak subur lagi karena hampir tidak ada lagi kandungan hara di dalam nya. Lapisan atas lahan (top soil), seperti nya telah rusak karena terus menerus di bom oleh pupuk kimiawi. Keganasan pupuk kimia, betul-betul melahirkan musibah bagi masa depan lahan pertanian kita.

Beberapa peneliti malah menyebut kondisi “LAHAN PERTANIA ” kita sedang sakit. Seorang sahabat malah menyatakan bahwa kesehatan LAHAN PERTANIAN di negeri ini berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Ditilik lebih dalam lagi, ternyata kondisi seperti ini tentu tidak datang tiba-tiba. Sebelum nya pasti ada kejadian yang menyebabkan semua ini bisa terjadi.

Revolusi Hijau yang kita mulai tahun 1970-an, rupa nya betul-betul telah menghujani “LAHAN PERTANIAN” kita dengan pupuk-pupuk an organik yang ditengarai bakal mampu meningkatkan produksi secara spektakuler. Pupuk kimia ini dianggap sebagai inovasi di bidang perpupukan yang super ajaib, karena mampu meningkatkan produksi berkali lipat.

Bukti nya, seiring dengan perjalanan waktu, ternyata pada tahun 1984 bangsa ini mampu meraih swasembada beras. Ini jelas, sebuah prestasi yang membuat warga dunia tercengang. Mereka seolah tidak yakin atas kisah sukses Swasembada Beras yang kita capai. Sayang, saat itu kita lupa dan terlena oleh keajaiban pupuk kimiawi sehingga teledor untuk mengkombinasikan nya dengan pupuk organik.

Lebih 40 tahun kita memupuk “LAHAN PERTANIAN” dengan pupuk an organik. Kesadaran untuk menghadirkan pupuk organik, terkesan cukup terlambat. Pemerintah lebih senang mewacanakan tentang penting nya penggunaan pupuk organik ketimbang mempraktekan nya secara nyata di lapangan. Pengumuman Pemerintah yang akan menerapkan “Go Organic” selalu mengalami ketidak-pastian.

Akibat nya wajar bila dalam suasana hari ini, “LAHAN PERTANIAN” khusus nya sawah, banyak yang sakit. Kesehatan sawah benar-benar berada dalam keadaan yang kritis. Banyak pengamat yang memvonis bahwa kondisi “LAHAN PERTANIAN” kita sekarang betul-betul sudah “membatu”, karena tiada henti dibombardir oleh pupuk-pupuk an organik.

Dulu untuk menghasilkan 5 sampai 6 ton gabah per hektar cukup dengan 250 kilo gram pupuk Urea dan pupuk-pupuk an organik lain nya. Tapi sekarang ternyata kebutuhan pupuk urea nya saja harus bertambah jadi 400 hingga 500 kilo gram per hektar jika kita ingin menghasilkan produksi gabah sebagaimana yang dipaparkan diatas.

Dan kalau kita bertahan dengan angka 250 kilo gram pupuk Urea per hektar, maka produksi yang dihasilkan boleh jadi hanya 3 ton gabah saja. Padahal kita tahu persis bahwa Pemerintah kini tengah berjuang keras untuk menggapai swasembada padi, jagung dan kedele, yang harus dapat diwujudkan dalam tahun 2017.

Berkaca pada hal yang demikian, maka pilihan nya adalah apakah kita akan mengorbankan kesehatan sawah yang ada guna mengejar target pencapaian swasembada atau kah kita akan sungguh-sungguh untuk menyehatkan sawah dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menerapkan pemakaian pupuk organik ?

Kita tentu butuh jawaban cerdas jika dan hanya jika kita ingin memelihara marwah pertanian sebagaimana mesti nya. Sebab, jika tidak boleh jadi sebutan negeri agraris hanya akan tampil menjadi sebuah kenangan bagi generasi mendatang. (*Entang Sastraatmadja, Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close