#iniruangkuHeadLine

Menghadapi Iklim Ekstrim

Mediatataruang.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama tahun 2020, sektor pertanian menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Pada Triwulan II/ 2020 PDB sektor pertanian tumbuh 16,24 persen (q-to-q). Demikian pula pada triwulan III dan IV, PDB Pertanian tumbuh masing-masing 2,15 persen dan 2,59 persen (y-on-y) dan mampu menjadi penyelamat memburuknya resesi ekonomi nasional.
Demikian juga memasuki Triwulan II/ 2021, PDB sektor pertanian masih konsisten tumbuh positif sebesar 12,93% (q to q).

Lebih jauh nya lagi, Menteri Pertanian menyatakan sektor pertanian menunjukkan ketangguhannya dalam 3 tahun terakhir. Justru yang menjadi tantangan terbesar selanjut nya adalah ada nya perubahan iklim sehingga sektor pertanian harus siap menghadapinya. Atas hal yang demikian, kini saat yang tepat untuk merubah strategi pembangunan pertanian dengan menerapkan teknologi dan riset yang adaptif terhadap tantangan perubahan iklim, pemanasan global dan krisis air dimasa yang akan datang.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan La Nina yang diperkirakan terjadi pada akhir 2021 dapat mengancam sektor pertanian dan perikanan. Oleh karenanya, pemerintah harus memberi perhatian lebih di kedua sektor tersebut. Dampaknya akan mengancam ketahanan pangan karena berpotensi merusak tanaman akibat banjir, hama, dan penyakit tanaman, serta juga mengurangi kualitas produk karena tingginya kadar air.

Dihadapkan pada kondisi yang demikian, sebetul nya sekitar satu tahun berlalu, Headline HU Pikiran Rakyat 22 Oktober 2020 memberitakan, fenomena iklim ekstrim. Kala itu disimpuljan berada pada tingkat moderat dan telah berlangsung sejak Oktober 2020 hingga April 2021. Saat itu, semua kalangan masyarakat diminta untuk mewaspadai potensi bencana yang ditimbulkan.

Fenomena iklim ekstrim diketahui terjadi di Samudera Pasifik sehingga berdampak pada peningkatan curah hujan di daratan Indonesia. Iklim ekstrim, seperti La Nina misal nya, merupakan siklus lebih dingin nya laut di pasifik equator seperti Afrika Timur, yang mempengaruhi sistem iklim global. La Nina yang terjadi saat itu menyebabkan suhu laut Indonesia lebih panas 1 – 2 derajat dari pada biasa nya.

Hal ini berdampak pada terkumpul nya uap air lebih banyak untuk membentuk awan awan di atas wilayah Indonesia. Akibat nya, hujan jadi lebih sering turun atau curah hujan meningkat.

Dalam beberapa hari belakangan ini, kita merasakan turun nya hujan dengan curah hujan yang cukup tinggi. Berbagai daerah telah melaporkan bencana banjir dan longsor sebagai dampak tinggi nya curah hujan.

Iklim ekstrim seperti ini merupakan fenomena alam yang bisa saja datang setiap tahun. Kedatangan La Nina ke negeri ini, bukanlah yang pertama. La Nina sudah sering “menghiasi” kehidupan bangsa kita. La Nina datang, kerap kali membawa bencana dan melahirkan dampak buruk bagi keberlangsungan pembangunan.

Salah satu nya adalah para nelayan menjadi kesulitan untuk menyambung nyawa kehidupan nya, mengingat mereka harus menangkap ikan ke tengah laut. Padahal, peralatan tangkap nya relatif tradisional dan belum modern. Jadi, sangat beresiko jika harus menangkap ikan ke tengah laut.

Terus terang, walau diinformasikan La Nina tahun ini masih berada pada tingkat moderat, namun beberapa kejadian yang baru saja dialami, ternyata telah banyak mengganggu tatanan kehidupan. Dampak La Nina sudah mulai terasakan. Kita memang harus semakin hati-hati dan waspada menyikapi nya.

Banjir bandang atau pun naik nya air laut ke daratan di beberapa daerah pantai selatan Jawa, menyebabkan banyak warga masyarakat yang kehilangan tempat tinggal. Persoalan nya menjadi lebih kompleks, manakala diberitakan di lokasi tersebut, terjadi longsor yang menutup ruas jalan utama.

Disodorkan pada kondisi yang demikian, mesti nya kita sudah memiliki jurus manjur untuk menjawab masalah semacam ini. Kita tidak perlu cemas dan khawatir. Kita mesti nya sudah siap dengan solusi. Arti nya, apa-apa yang terjadi karena ada nya La Nina, kita sudah memiliki Master Plan untuk mensolusikan nya lewat pendekatan deteksi dini.

Tapi sangat disayangkan. Deteksi dini untuk menyambut kehadiran La Nina, tampak nya belum dapat dilakukan. Tidak semua daerah siap dengan pola deteksi dini. Daerah lebih suka memerankan diri sebagai “pemadam kebakaran”. Jika terekam sudah ada masalah, barulah mereka turun ke lapangan.

Merubah cara kerja dari “pemadam kebakaran” ke arah deteksi dini, bukanlah hal yang gampang untuk dilaksanakan. Selain dibutuhkan ada nya keseriusan untuk menggarap nya, ternyata diperlukan pula ada nya pencermatan yang lebih mendalam terhadap pergerakan La Nina dalam beberapa tahun berselang.

Suka atau pun tidak, kini La Nina akan mengisi kehidupan sehari-hari. Di beberapa daerah, hampir setiap hari turun hujan dengan curahan yang cukup tinggi. Di daerah terekam Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), sudah mulai menggeliat. Mereka terlihat tidak lagi berdiam diri.

Jejaring yang selama ini terbangun, tampak mulai mempertontonkan kinerja terbaik nya. Mereka tidak lagi menanti musibah, namun mereka berupaya untuk mencegah nya lewat berbagai kebijakan terbaik nya. Tidak hanya itu. Beberapa Kepala Daerah pun sudah banyak yang langsung terjun ke lapangan. Ini sebuah fakta bahwa negara hadir di tengah-tengah kehidupan warga nya.

Semoga seiring dengan berjalan nya waktu, kita akan semakin faham dan cerdas dalam menyambut datang nya La Nina. Pengalaman yang kita peroleh selama ini, diharapkan dapat menjadi proses pembelajaran, manakala kita harus menerima kembali La Nina.

Sebagai fenomena alam yang senantiasa berubah, kita sudah harus menyiapkan diri dengan perubahan yang ada. Mind-set seperti ini sebaik nya melekat dalam benak para pengambil kebijakan di negeri ini. (*Entang Sastaraatmadja, Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close