Daerah

Bencana akibat Human Error, H. Osin: Alam Menghukum Manusia

Mediatataruang.com – Terjadinya bencana merupakan hukum alam yang disebabkan Human Error (Kesalahan Manusia) yang terlalu bernafsu memenuhi kepentingannya dalam mengekspoloitasi alam.

Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Bandung, H. Osin Permana

Artinya ketika manusia melawan hukum, dikatakan Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Bandung, H. Osin Permana, alam berbalik menghukum manusia dalam bentuk bencana.

Memang menurut Undang Undang No. 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Osin menambahkan, bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Namun kesalahan manusia dalam kerusakan alam demi memenuhi kepentingannya, disebutkannya, sangat dominan. Makanya harus ada reorentasi dalam idiologi pembangunan, agar alam seharusnya dimanfaatkan sebagai kebutuhan manusia bukan dieksploitasi, demikian juga dengan tata guna lahan harus seiring bersama keberlangsungan hidup manusia.

“Peran pemerintah disini bukan hanya menanggulangi bencana saja tapi harus bisa membuat manajemen bencana dan memgedukasi.masyarakat yang tinggal di lokasi rawan bemcana,” katanya di DPRD, Selasa 9 November 2021.

Osin menjelaskan, manajemen bencana itu merupakan akumulasi kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana.

Tujuannya untuk mencegah kehilangan jiwa, mengurangi penderitaan manusia, memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko, mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.

Tahapan-tahapan manajemen bencana tersebut, dia mengemukakan, dilakukan sebelum bencana terjadi, meliputi langkah–langkah pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan dan kewaspadaan.

Sementara pada waktu bencana sedang atau masih terjadi, yang harus dilakukan adalah langkah–langkah peringatan dini, penyelamatan, pengungsian dan pencarian korban.

Dan sesudah terjadinya bencana, melakukan langkah penyantunan dan pelayanan, konsolidasi, rehabilitasi, pelayanan lanjut, penyembuhan, rekonstruksi pemukiman kembali penduduk

“Karena bencana merupakan rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat baik yang disebabkan oleh faktor alam atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis,” ujarnya.

Langkah selanjutnya memberlakukan Mitigasi Bemcana, ungkapnya, namun mitigasi itu sendiri dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu, mitigasi struktural dan mitigasi nonstruktural.

Mitigasi struktural adalah upaya untuk menghindari kerugian akibat bahaya yang timbul dengan cara melakukan pembangunan secara fisik.

Pembangunan berkaitan dengan teknik konstruksi infrastuktur yang memiliki daya tahan dalam memberikan perlindungan terhadap bahaya.

Dan mitigasi nonstruktural merupakan upaya untuk menghindari kerugian akibat bahaya yang yang timbul dengan cara pemberdayaan masyarakat.

Pemberdayaan dilakukan dengan pembuatan kebijakan, meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya, serta mengembangkan pengetahuan akan bahaya.

Pemberdayaan masyarakat juga dilakukan dengan menggunakan metode partisipasi masyarakat dalam pencegahan kerusakan, gangguan dan bahaya.

Terakhir Osin memaparkan, untuk mencegah kembali terjadinya bencana, pemerintah harus ada analisis risiko, yang merupakan kegiatan untuk memperkirakan banyaknya risiko bahaya yang dapat ditimbulkan oleh individu terhadap alam, populasi, properti, atau lingkungan.

“Analisis risiko itu meliputi ruang lingkup bahaya, identifikasi bahaya, evaluasi kerentanan risiko, identifikasi konsekuensi dan jumlah risiko yang timbul,” pungkas dia. **

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close