#iniruangkuHeadLine

Taman Buru Masigit Kareumbi BBKSDA Jabar Jadi Ajang Bancakan Pencuri Getah Pinus

Mediatataruang.com – Taman Buru Masigit Kareumbi BBKSDA Jabar, dijadikan ajang bancakan para pencuri getah pinus dengan memakai baju pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan.

Miris pencurian ini melibatkan sebuah PT dan oknum oknum petugas yang memanfaatkan celah lemahnya penegakan hukum dan pengawasan lapangan oleh jajaran BBKSDA Jabar.

Hal tersebut disampaikan pegiat lingkungan yang tergabung dalam Gelap Nyawang Nusantara (GNN).

Pembina GNN, Asep Riyadi mengatakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) getah pinus di kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi yang di kelola oleh BBKSDA Jabar, mengeluarkan PKS kepada sebelas KTH yang semuanya berapiliasi di dalam Koperasi Pinus Merkusi sebagai wadah usaha dan tata kelola getah hasil sadapan dari 11 KTH legal tersebut.

Yang mana wilayahnya Tersebar di Wilayah Sumedang dan Sebagian kecil Garut.

“Pada akhir akhir ini, saya melihat konteks pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan, ada yang mengotori, oleh oknum oknum yang mengaku dari pusat dan berapiliasi dengan para pelacur lingkungan, yaitu dilapangan mereka dengan segala cara merayu masyarakat, dan muspika nya untuk melakukan ilegal HHBK getah Pinus,”ujar Asep.

Kenapa saya sampaikan demikian, lanjut Asep mengatakan untuk diketahui filosofi HHBK adalah pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan, yang mana tidak diberikan target ataupun beban untuk menghasilkan produksi getah nya secara pasti dan tegas.

HHBK ini di ciptakan, murni untuk memberikan nilai tambah Kepada masyarakat sekitar kawasan hutan, agar bisa mendapatkan nilai tambah dengan menghasilkan getah sesuai dengan kemampuan dan waktu yang dimiliki oleh masyarakat, yang di akomodir oleh BBKSDA Jabar dengan di beri Legal Hukum nya berupa PKS.

Ini Kunci Utama HHBK. Pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan tanpa dibebani target produksi ataupun embel embel lainnya yang bersifat komersil atau sepertu usaha lainnya (Kejar target).

Asep mengungkapkan pakta sekarang, ada perusahaan yang masuk, dengan cara merayu penyadap yang tadinya legal dengan KTH yang sudah memiliki ijin, tetapi di ambil oleh perusahaan tersebut. Dengan cara membuat KTH tandingan dengan menyadap di lokasi yang legal dan mengintimidasi serta memutarbalikkan filosofi HHBK yang awalnya Pemberdayaan murni menjadi sebagai obyek mata pencaharian tetap. Dimana harus bisa menghasilkan getah sebanyak banyaknya.

“Ini yang membuat saya prihatin dan geram. Karena setelah ditelusuri, dibelakang semua ini, ada oknum oknum yang mengatasnamakan kementerian LHK, baik mengaku sebagai orang nya dirjen atau petinggi LHK, dan seolah olah mereka bisa mengatur segalanya,”ungkapnya.

Lanjut Asep menyebutkan kegiatan ini juga di bantu oleh oknum dari BBKSDA Jabar sendiri, untuk meyakinkan masyarakat yang tadinya berada dalam posisi KTH Legal, keluar bersama Perusahaan tersebut untuk melakukan penyadapan secara Ilegal,
Miris ketika tim turun kelapangan, ilegal HHBK getah Pinus sudah mulai banyak timbul di lapangan, karena tipudaya dan cuci otak masyarakat oleh oknum perusahaan dan oknum BBKSDA Jabar serta yang mengaku orang pusat, dengan mendorong opini agar masyarakat masuk menyadap getah tanpa perlu adanya payung hukum berupa PKS seperti yang di tempuh oleh 11 KTH legal.

Miliaran getah ilegal sudah di hasilkan oleh oknum perusahaan tersebut. Dimana semua pihak tutup mata dan telinga, atas kejahatan ini. BBKSDA Jabar, APH, GAKKUMLHK. Semua Membiarkan nya. Dari mulai cibugel, Pamulihan, dan wilayah yang berbatasan dengan kabupaten Bandung, penjarahan dan pencurian getah Pinus ilegal yang di mobilisasi dan di tampung oleh perusahaan jahat tersebut sudah berlangsung kurang lebih enam bulan.

Ini terus terang menjadi raport buruk buat petinggi BBKSDA Jabar, Ditjen KSDAE, kalau terus dibiarkan. Dimana yang legal (11 KTH yang memiliki PKS), kalah dan rusak oleh kelakukan penjahat ilegal yang dibekengi oleh oknum orabg dalam LHK nya sendiri. Dari mulai tingkat bawah sampai pusat yang bersengkongkol dengan perusahaan (mencuri getah dengan menampung getah diluar dari 11 KTH legal yang dari awal sudah membentuk koperasi untuk menampung hasil getahnya dan membuat KTH legal agar bisa mencuri getah).

“Semoga segera ada pihak yang mendorong untuk bisa secepatnya di dengar, di luruskan dan di Tangkapi semua penjahat HHBK getah Pinus di wilayah taman buru Masigit Kareumbi. Aparat Penegak Hukum (Tipidter) dan GAKKUMLHK. Tolong segera Turun dan Tangkapi Mereka mereka yang terlibat dalam kejahatan Ilegal HHBK Getah Pinus,”pungkasnya.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close