#iniruangkuHeadLine

FSVA Dan Kerawanan Pangan

Mediatataruang.com – Sebagaimana yang kita maklumi, Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas – FSVA) merupakan peta tematik yang menggambarkan visualisasi geografis wilayah rentan terhadap kerawanan pangan. Peta ini sangat bermanfaat, khusus nya untuk penyusunan desain perencanaan pembangunan pangan suatu daerah.

Masalah nya menjadi sangat penting, karena kerawanan pangan sendiri dapat diartikan juga sebagai kondisi suatu daerah, masyarakat atau rumah tangga yang tingkat ketersediaan dan keamanan pangannya tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan sebagian besar masyarakat.

Untuk itu dibutuhkan ada nya ukuran yang akuntabel dalam penyusunan tersebut. Indikator kerawanan pangan yang sesuai dan tersedia untuk menganalisis kerawanan pangan kelurahan adalah: konsumsi dan ketersediaan pangan domestik (%), keberadaan toko-toko pracangan/klontong, rata-rata ukuran rumah tangga (%), penduduk tidak bekerja/pengangguran (%), penduduk miskin (%), kematian bayi (IMR)

Kerawanan pangan sendiri merupakan kondisi yang dangat tidak diharapkan. Beberapa langkah yang selama ini digunakan untuk mengatasi nya, antara lain adalah :

  • Pemetaan sumber daya alam lokal.
  • Pengembalian kebutuhan pangan di daerah ke bahan pangan pokok yang utama yang sebenarnya.
  • Perlindungan terhadap lahan produktif atau lahan hijau.

Di sisi lain, dikenali pula rawan
pangan dan gizi pada dasarnya merupakan refleksi dari situasi kecukupan pangan dan gizi individu pada komunitas atau kelompok masyarakat di suatu wilayah sebagai dampak ketidaklancar-an akses terhadap pangan, baik secara fisik, sosial maupun ekonomi. Itu sebab nya,
Penanganan daerah rawan pangan merupakan upaya untuk menangani suatu kondisi ketidakcukupan pangan dan gizi yang dialami oleh rumah tangga.

Hasil penelitian memperlihatkan ciri-ciri wilayah yang mengalami kerawanan pangan adalah wilayah yang sering mengalami kekeringan, banyak penduduknya yang melakukan migrasi dan pendapatan perkapita desanya rendah. Catatan kritis nya adalah apakah masyarakat di daerah tersebut benar-benar kesulitan memperoleh bahan pangan atau masyarakat nya memang tidak memiliki daya beli untuk mendapatkan pangan tersebut ?

Atas hal yang demikian kerawanan pangan dapat juga didefinisikan sebagai tidak meratanya akses pangan secara cukup jumlah dan kualitas dan hal ini merupakan pelanggaran hak-hak dasar manusia (United Nations Human Rights & World Health Organization, 2008). … Penyebabnya adalah ketimpangan terhadap akses dan pemanfaatan pangan oleh masyarakat.

Keberadaan FSVA tentu saja akan membantu daerah, baik Privunsi atau Kabupaten/Kota dalam merumuskan kebijakan pembangunan ketahanan pangan nya. FSVA dapat pula dijadikan bahan dasar utama dalam penyusunan Perencanaan Pangan suatu daerah. Justru yang sering dipertanyakan banyak pihak adalah bagaimana dengan kualitas FSVA nya sendiri ?

Apakah data yang digunakan dalam penyusunan FSVA ini dapat dijamin dan tentu saja dapat dipertanggungjawabkan secara akademik ? Ataukah tidak, karena dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki nya, penyusunan FSVA terkesan masih membutuhkan pencerahan lebih lanjut. Inilah sebetul nya yang membutuhkan perbincangan lebih jauh lagi.

Pelaksanaan FSVA di daerah, dilaksanakan oleh sebuah tim gabungan dari berbagai lembaga, baik lembaga vertikal seperti Badan Pusat Statistik atau pun lingkup Dinas yang ada di Provinsi atau Kabupaten/Kota. Tim inilah yang akan bekerja untuk datang ke Kelurahan atau Desa, guna mencari data yang dibutuhkan untuk menghasilkan peta tematik diatas.

Dengan segala keterbatasan nya, kita dapat memaklumi peta tematik yang dihasilkan bisa saja belum seperti yang diharapkan. Itu sebab nya, selain ada nya sebuah tim penyusun FSVA perlu pula didampingi oleh para pakar yang basis nya dari Universitas. Para akademisi inilah yang sebaik nya melakukan pendampingan dalam penyusunan FSVA, terutama dalam pembahasan tahap pelaporan nya.

Penyusun sebuah peta yang berusaha mengungkap ketahanan fan ketentanan pangan suatu daerah, memang bukan cuma sekedar menyajikan angka-angka saja. Yang lebih dipentingkan adalah angka-angka tersebut harus memiliki “ruh” sehingga mampu menggambarkan kondisi yang sesungguh nya suatu daerah. Angka-angka ini dapat juga bicara tentang ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan. Bahkan perlu pula memberi gambaran soal keamanan pangan daerah.

Dibalik semua ini, rupa nya sejak lama memang telah terjadi perdebatan antara makna rawan pangan dan rawan daya beli. Pertanyaan yang selama ini dihadapi di lapangan adalah apakah persoalan rawan pangan atau rawan daya beli, kelihatan nya, jawaban yang disampaikan belum mampu memberi kepuasan kepada semua pihak. Di negara kita, yang nama nya pangan apa pun memang cukup tersedia.

Bangsa kita tidak pernah mengeluh karena kekurangan bahan pangan. Mau pangan apa pun, pasti tersedia di pasar atau pun super market. Justru yang jadi masalah adalah soal daya beli masyarakat untuk memperoleh bahan pangan tersebut. Hal inilah sebetul nya yang penting dianalisa secara lebih tajam.

Arti nya, kalau pun sekarang banyak dibahas tentang kerawanan pangan di suatu daerah, maka yang penting dipertanyakan adalah apakah betul terjadi rawan pangan ? Atau justru tidak demikian. Yang terjadi bukan nya rawan daya beli ? Bila kita sudah berhadapan dengan kondisi rawan daya beli, tentu saja hal ini bakal berkaitan dengan soal perekonomian secara makro dan bukan menyangkut problem ketahanan pangan semata.

Kesimpulan sederhana nya, di negeri agraris seperti Indonesia, kita tidak akan pernah mengalami rawan pangan. Selama kita punya daya beli, maka jenis pangan apa pun, pasti akan kita dapatkan. Namun, bila kita tidak memiliki daya beli, dijamin halal bahan pangan yang ada dihadapan mata pun tidak akan kita dapatkan. FSVA mesti nya mampu menyuguhkan hal-hal yang demikian. (Entang Sastraatmadja).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close