#iniruangkuHeadLine

Pertanian Perkasa, Petani Merana

Mediatataruang.com – Hampir dalam setiap kesempatan, Menteri Pertanian Sjahrul Yasir Limpo (SYL) selalu menegaskan tentang keperkasaan sektor pertanian di negeri ini. Dengan mengacu kepada fenomena Pandemi Covid 19, sektor pertanian ternyata masih mampu untuk bertumbuh positip, padahal sektor-sektor lain yang diprioritaskan, malah bertumbuh negatif. Inilah, salah satu alasan pokok nya, mengapa Menteri Pertanian berani berujar, sektor pertanian, tidak pernah ingkar janji.

Pertanyaan penting untuk disampaikan adalah apakah dengan keperkasaan sektor pertanian, maka para petani nya akan ikut-ikutan perkasa juga ? Jawab nya tegas : tidak ! Pertanian boleh divonis perkasa, tapi petani lebih tepat dikatakan menderita. Inilah wujud ironi pembangunan pertanian di negeri ini. Hal ini, tidak jauh berbeda situasi nya dengan meningkat nya produksi padi dan jalan ditempat nya tingkat kesejahteraan petani nya.

Jika pertanian perkasa, mesti nya mampu mendongkrak kesejahteraan petani nya. Keperkasaan pertanian, tentu tidak hanya diukur oleh ketangguhan nya dalan melawan sergapan Covid 19, tetapi diikuti pula oleh semakin membaik nya kualitas kehidupan petani beserta keluarga nya. Sayang, yang terjadi tidak seperti itu. Kesejahteraan petani yang diukur oleh Nilai Tukar Petani (NTP), terbukti masih jauh dari apa yang diimpikan.

Lambat nya Pemerintah meningkatkan kesejahteraan petani adalah sebuah bukti dari ketidak-sungguhan para penentu kebijakan dalam membangun petani sebagai bagian dari warga bangsa. Pemerintah sendiri seperti yang salah asumsi. Meningkat nya produksi dan produktivitas pertanian, otomatis akan meningkatkan kesejahteraan petani. Fakta nya tidak demikian. Tidak ada korelasi positip antara peningkatan produksi pertanian dengan meningkatnya kesejahteraan petani nya.

Strategi dan Kebijakan pembangunan pertanian yang kita tempuh selama ini, memang mengarah ke peningkatan produksi pertanian setinggi-tinggi nya menuju swasembada. Lalu, bagaimana dengan peningkatan kesejahteraan petani nya sendiri ? Apakah Pemerintah telah memiliki jurus ampuh guna mempercepat terwujud nya kesejahteraan petani ? Atau kah tidak, dimana Pemerintah tetap bersikukuh, bila produksi pertanian dapat ditingkatkan, maka kesejahteraan petani nya pun bakal meningkat dengan sendiri nya ?

Agar kita tidak salah asumsi, mesti nya segera kita bedakan antara pembangunan pertanian dengan pembangunan petani. Ke dua hal diatas, perlu memiliki paradigma masing-masing. Soal peningkatan produksi dan produktivitas pertanian, memang ini tugas dan tanggungjawab dari pembangunan pertanian. Di negeri ini, secara kelembagaan Pemerintahan hal itu berada di bawah kendali Kementerian Pertanian.

Sedangkan yang disebut dengan pembangunan petani adalah tugas dan tanggungjawab kita bersama, khusus nya Kementerian dan Lembaga yang memiliki keterkaitan dengan usaha meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri. Bukan hanya tugas nya Kementerian Pertanian, namun juga Kementerian lain seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan lain sejenis nya.

Sinergitas dan kolaborasi antar Kementerian dan Lembaga melalui keserempakan para pemangku kepentingan atau sering dikenali dengan istilah Pentahelix, menjadi salah satu ukuran dari keberhasilan dalam mendongkrak kesejahteraan petani. Percepatan peningkatan kesejahteraan petani, tidak bisa lagi hanya mengandalkan satu sektor, namun seirama dengan perubahan yang tengah menggelinding, maka dibutuhkan penanganan yang bersifat multi-sektor.

Pernyataan “pertanian perkasa, petani menderita”, seharus nya dirubah menjadi “pertanian perkasa, petani sejahtera”. Keperkasaan pertanian, terkesan sebagai ungkapan yang salah besar bila fakta petani nya hidup menderita. Keperkasaan itu menggambarkan ketangguhan dan kehebatan. Dengan ketangguhan dan kehebatan nya, pertanian harus mampu memberi keberkahan bagi para pelaku utama di sektor pertanian. Apakah secara sosial kemasyarakatan atau pun dalam hubungan nya dengan nilai tambah ekonomi.

Dalam Pemerintahan yang telah mengklaim pertanian sebagai sektor yang perkasa, maka menjadi sebuah kesalahan yang sangat fatal, kalau banyak ditemukan petani yang kondisi kehidupan nya masih memprihatinkan. Klaim yang dilakukan, tentu bukan cuma sebuah jargon yang menjurus ke arah laporan yang ABS (Asal Bapak Senang). Namun, klaim itu harus pula dapat dibuktikan dan dipertanggungjawabkan dalam kenyataan di lapangan.

Arti nya, bila sekarang masih kita saksikan betapa banyak nya petani yang masih terjebak dalam jeratan kemelaratan dan hidup dalam gelimang kemiskinan, maka mutlak dipersoalkan dimana sesungguh nya letak keperkasaan nya itu ? Siapa sebetul nya yang mendapat kenikmatan dari keperkasaan sektor pertanian ini ? Jawaban nya jelas, pasti bukan petani. Sebab, petani sendiri terbukti belum mampu hidup sejahtera. Petani masih saja hidup sengsara. Suasana hidup sejahtera sendiri, di benak petani masihp merupakan cita-cita yang entah kapan dapat dirasakan dalam kehidupan nya.

Dalam menerima pupuk bersubsidi misal nya, petani seringkali menjadi korban kebijakan. Pupuk yang harus nya secara mudah dapat diperoleh petani, ternyata di saat musim tanam tiba, pupuk pun menjadi langka, bahkan bisa saja tiba-tiba menghilang dari pasaran. Kondisi ini hampir setiap musim tanam terjadi dan tidak pernah dapat diselesaiksn hingga tuntas. Pertanyaan kemana aja Pemerintah, menjadi diskusi hangat di kalangan petani.

Hal lain, yang membuat petani menderita adalah belum jelas nya sikap para penentu kebijakan terhadap upaya perlindungan dan pembelaan petani atas tekanan pihak lain yang selalu berkeinginan memarginalksn kehidupan petani. Keberpihakan Negara terhadap petani pun, masih dipertanyakan para pihak. Lebih parah nya lagi, di mata mereka yang anti petani, yang nama nya petani, tidak boleh petani itu hidup sejahtera. Petani perlu dijaga agar tetap terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan ysng tidak berujung pangkal.

Perlindungan dan pemberdayaan petani, rupa nya masih sebatas Undang Undang. Sedangkan dalam penerapan nya belum digarap dengan optimal. Padahal, para petani selalu menantikan kapan Pemerintah dapat hadir secara nyata dalam penderitaan petani itu sendiri. Kehadiran Negara atau Pemerintah dalam kehidupan petani, diharapkan mampu mempercepat terselesaikan nya penderitaan mereka untuk digantikan dengan suasana hidup yang sejahtera.

Pembangunan pertanian dan pembangunan petani, seharus nya dapat ditempuh secara berbarengan dengan hasil yang saling menguatkan. Pembangunan pertanian bakal mampu meningkatkan produksi dan produktivitas hasil pertanian, sedangkan pembangunan petani akan mampu mempercepat terjelma nya kesejahteraan petani ke arah yang lebih baik lagi. Atas hal yang demikian, maka jargon pun akan berganti menjadi “pertanian perkasa, petani sejahtera”. (*Entang Sastraatmadja).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close