#iniruangkuHeadLine

Tongkat dan Kayu Jadi Tanaman

Mediatataruang.com – Pernah dengar lagu Koes Plus sekitar tahun 1970an yang judul nya Kolam Susu ? Lagu yang cukup beken dan menjadi hits sekitar 50 tahun lalu itu, betul-betul mampu menjadi lagu yang disukai masyarakat. Dalam salah satu bait nya tertulis “tongkat dan kayu jadi tanaman”. Sebuah kalimat pengandaian yang penuh dengan harapan.

Kalimat ini memberi gambaran kepada kita, betapa subur nya Tanah Merdeka. Bukan hanya tumbuh dengan berbagai komoditas, seperti tanaman pangan, tanaman perkebunan, tanaman kehutanan, tanaman hortikultura, namun saking subur nya tanah negeri ini, tongkat dan kayu pun bisa jadi tanaman.

Begitulah penggambaran grup musik yang di era Orde Lama disebut musik “ngak ngek ngok” ini. Betapa apresiasi nya Toni, Yon, Yok dan Murry terhadap tanah air yang dicintai nya. Koes Plus sadar betul agar karunia Tuhan yang diberikan kepada bangsa kita, sepantas nya harus dijaga dan dipelihara dengan baik dan tentu saja bertanggungjawab.

Oleh karena nya, bila beberapa waktu yang lalu terekam ada segelintir anak bangsa yang melakukan penggundulan terhadap hutan dan kebun hanya untuk mengejar kepentingan ekonomi semata, maka wajib hukum nya untuk melawan nya secara serius. Bagi para perusak lingkungan dan kehutanan, wajib dihukum seberat-berat nya.

Tidak boleh ada kompromi dengan mereka. Sebab, perlakuan mereka inilah yang membuat terjadi nya bencana di masa depan. Terjadi nya banjir bandang di beberapa daerah belum lama ini, ditengarai sebagai dampak dari kejahatan mereka membabat hutan. Begitu pun dengan banyak nya longsor dan bencana alam yang hari-hari ini banyak menimpa negeri tercinta.

Tidak hanya itu saja pengrusakan terhadap alam raya dilakukan. Beberapa oknum yang cuma berpikir saat ini, tampak melakukan pengalih-fungsian lahan-lahan pertanian produktif menjadi pemukiman, perumahan, kawasan industri, kebutuhan infra struktur dan lain sebagai nya.

Selama langkah tersebut digunakan untuk kemaslahatan ummat manusia, tentu tidak menjadi soal. Terlebih-lebih bila memberi keberkahan dalam kehidupan. Akan tetapi ketika sikap keserakahan dan ingin mengeruk keuntungan sebesar-besar nya, maka mulailah menjadi dilema kehidupan yang merisaukan.

Inilah yang mesti nya kita cermati dengan seksama. Sejak Indonesia merdeka, lahan pertanian kita seperti tidak ada yang melindungi. Baru pada tahun 2009 bangsa ini menerbitkan Undang Undang No. 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Sayang dalam perjalanan nya UU ini hanya sekedar kata dan kalimat indah saja yang sulit untuk diterapkan.

Arti nya, selama kurun waktu 64 tahun setelah kemerdekaan, tidak ada aturan setingkat UU yang melindungi lahan pertanian dari serbuan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Akibat nya wajar, jika kemudian banyak terlihat yang semula hamparan dawah kini menjadi hamparan gedung atau pabrik berskala industri. Ya, begitulah kondisi nya.

Setiap Pemerintahan, terlihat lebih senang menggunakan pendekatan pemadam kebakaran dalam menyelesaikan setiap masalah yang muncul ke tengah kehidupan, ketimbang menggunakan pendekatan deteksi dini. Jadi, sudah berapa banyak lahan pertanian yang beralih-fungsi, sebelum UU nya itu diterbitkan.

Kerusakan lahan sawah sendiri adakala nya disebabkan oleh kecerobohan dalam menerapkan sebuah kebijakan di sektor pertanian. Sebut saja tentang Revolusi Hijau. Keinginan untuk meningkatkan produksi setinggi-tinggi guna meraih swasembada, membuat Pemerintah terpaksa mengoptimalkan penggunaan pupuk kimia dan melupakan keberadaan pupuk organik.

Resiko nya seusai lebih dari 40 tahun lahan sawah kita dibombardir oleh pupuk an organik, maka lahan sawah pun menjadi keras. Top soil nya menjadi tidak ada lagi. Pemakaian pupuk kimia yang berlebihan sama saja dengan kita menyemen lahan. Dari sisi teori pemupukan, sebaik nya ada keseimbangan pemakaian pupuk antara an organik dan organik.

Lagi-lagi Pemerintah telat bertindak. Setelah muncul kerisauan petani akan lahan sawah nya menjadi keras di musim kemarau tiba, barulah Pemerintah mengkampanyekan perlu nya penggunaan pupuk organik. Lahan sawah yang subur dan menjadi mata pencaharian utama para petani, kini terekam menghadapi bencana yang terstruktur. Karena digempur terus menerus oleh pupuk kimia, membuat soal tersendiri bagi petani.

Tapi, apa hendak dikata, Pemerintah rupa nya masih belum mampu melepas pupuk kimia dalam kebijakan pupuk bersubsidi nya, karena sebagian besar subsidi pupuk yang jumlah nya lebih dari 30 T rupiah itu, diarahkan untuk membuat pupuk kimia. Resiko nya, semangat untuk menggebyarkan Go Organik pun kembali mengumandangkan hanya sekedar wacana. Kalau pun ada langkah yang menjurus ke arah itu, lebih mengemuka sebagai gugur kewajiban belaka.

Dihadapkan pada fenomena yang demikian, boleh jadi kesuburan dan kesehatan lahan pertanian kita kini semakin parah. Belum lagi disodorkan ada nya cuaca ekstrim yang harus kita hafapu. Lahan sawah yang sangat subur, kini tampak sedang kesakitan. Hal semacam ini, sangat tidak baik bila dibiarkan berlarut-larut. Kita perlu mengingatkan Pemerintah untuk cepat bertindak.

Ayo sehatkan lagi lahan sawah yang kita miliki. Hentikan alih fungsi lahan sawah yang membabi-buta. Sebab, lahan sawah adalah warisan utama bagi generasi mendatang untuk melestarikan negeri agraris. Sebuah negeri yang subur dengan pengandaian tongkat dan kayu jadi tanaman. (Entang Sastaatmadja).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close