#iniruangkuHeadLine

Budaya Tani

Mediatataruang.com – 30 Nopember 2021, Paguyuban Seniman dan Budayawan Bandung (PASEBBAN) Kabupaten Bandung menyelenggaran Gebyar Budaya Tani. Kegiatan PASEBBAN yang bekerja-sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung ini, menarik untuk dicermati, karena menawarkan pandangan baru soal pertanian dan budaya.

Mind-set pertanian yang kurang mengedepankan sisi budaya, bahkan cenderung menihilkan nilai-nilai kebudayaan, membuat banyak pihak yang ingin mengingatkan kita bersama. Indonesia sebagai negeri agraris, tidak semesti nya mengesampingkan peran nilai-nilai budaya dalam pembangunan pertanian itu sendiri.

Nilai-nilai budaya ini, semesti nya memberi “ruh” terhadap pembangunan pertanian. Mengacu kepada hal yang demikian, PASEBBAN Kabupaten Bandung mencoba untuk membahas nya dengan menggelar dialog tentang Budaya Tani. Dalam dialog tersebut, ditampilkan tiga nara sumber yang memiliki latar belakang berbeda.

Ada Entang Sastraatmadja selaku Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat, yang dikenali juga sebagai kolomnis bidang pertanian dan pangan di surat kabar Pikiran Raktat. Lalu, ada Eep S Maqdir, lulusan ilmu fisika dari ITB yang dikenal sebagai pendongeng tani dan Andri Kantaprawira seorang pegiat gerakan kebudayaan. Acara dipandu oleh Dani Sugiri, Ketua PASEBBAN.

Memang, sangat jarang kebijakan pertanian kita yang mengaitkan dengan nilai-nilai budaya. Program pertanian lebih menjurus kepada upaya peningkatan produksi dan produktivitas hasil pertanian. Suasana ini telah berlangsung sejak lama. Padahal, bila kita bedah kata “agriculture” sendiri, yang nama nya pertanian sendiri, tidak leoas kaitan nya dengan jata “culture”.

Pertanian di negeri ini, memang terlepas hubungan nya dengan nilai-nilai budaya yang selama ini tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Beberapa puluh tahun ke belakang, tentu kita akan teringat betapa ramai nya keriaan ketika masyarakat petani melakukan panen raya padi. Pesta tiga hari tiga malam sering kita jumpai di daerah-daerah sentra produksi padi. Petani betul-betul memberi penghormatan kepada Dewi Sri yang telah memberi hasil panen padi yang berlimpah.

Para petani padi banyak yang masih percaya pesta panen raya merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Dewi Padi. Para petani masih memiliki persepsi, Dewi Sri inilah yang menjaga tanaman yang mereka tanam dapat terhindar dari serangan hama dan penyakit tanaman. Itu sebab nya, ketika panen mereka berhasil, wajar-wajar saja bila para petani pun menyelenggarakan keriaan sebagai ungkapan terima kasih atas keberkahan yang mereka peroleh.

Inilah salah satu wujud dari nilai-nilai budaya tani yang dimiliki oleh bangsa kita. Kini, nilai-nilai budaya itu mulai memudar. Jarang sekali saat ini, kita saksikan ada nya petani yang melakukan “pesta” tiga hari tiga malam di kampung nya. Hampir tidak ada lagi petani yang saat panen raya yang “nanggap wayang golek”. Petani hari ini, seolah-olah tidak mampu lagi melakukan unjuk terima kasih kepada Dewi Sri. Petani menerima kedatangan masa panen raya, tak ubah nya sekedar menggugurkan kewajiban semata.

Selidik punya selidik, rupa nya pantas bila kita pun bertanya, mengapa para petani tidak menyelenggarakan lagi keriaan ketika panen raya datang ? Salah satu jawaban nya, boleh jadi para petani padi hari ini, semakin tidak berdaulat lagi terhadap lahan sawah yang digarap nya. Petani lebih banyak yang menjadi petani penyewa, petani penyakap, petani penggarap atau pun petani buruh. Sedangkan para pemilik lahan sawah sendiri, umum nya berada di perkotaan. Mereka itulah ysng sering disebut Petani Berdasi atau Petani Bersafari.

Akibat nya wajar, bila kecintaan terhadap nilai-nilai budaya tani pun menjadi memydar. Sebab, mereka sudah tidak memiliki lahan sawah nya lagi. Mereka hidup berburuh hanya sekedar untuk menyambung nyawa. Nilai-nilai budaya tani kini bergeser menjadi nilai-nilai ekonomi. Tidak tampak lagi bertani itu merupakan nilai kehidupan yang penuh dengan kebersamaan sekaligus bagian dari ibadah untuk dapat memberi makan segenap warga bangsa.

Semakin memudar nya nilai-nilai budaya tani, boleh jadi disebabkan oleh terjadi nya transformasi sektor pertanian ke industri atau jasa perdagangan. Nilai-nilai budaya tani tampak tergerus dengan ada nya pergeseran nilai kehidupan dalam masyarakat. Orang-orang kini sudah mulai meninggalkan semangat “sabilulungan” dan menjebakan diri dalam kehidupan yang sofistikasi. Tidak tumbuh lagi semangat gotong royong. Yang berkembang malah semangat undividualustik.

Nilai-nilai ekonomis tampak mengedepan dalam kehidupan. Proses kehidupan penuh dengan transaksi ekonomi. Hampir semua kegiatan diukur dengan uang. Semua serba pragmatis. Tidak terlihat lagi nilai-nilai sosial yang selama ini tumbuh. Apalagi yang berhubungan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Budaya tani yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan juga mulai hilang karena ada nya kepentingan. Prinsip siapa cepat siapa dapat, juga mulai merasuk dalam kehidupan dunia pertanian kita.

Dulu, betapa gampang nya bila kita ingin mengumpulkan petani. Saung Meeting yang ada di tengah persawahan, menjadi saksi hidup, betapa harmonis nya pertemuan antara penyuluh dan petani berlangsung. Petani secara ikhlas datang beramai-ramai ke Saung untuk mendengar inovasi dan teknologi pertanian dari para penyuluh. Inilah sejati nya proses pembelajaran, pemberdayaan dan pemartabatan petani dilakukan. Penyuluh berperan sebagai guru dan para petani menjadi murid-murid nya.

Kondisi semacam itu, dalam suasana kekinian, sangatkah sulit untuk diwujudkan kembali. Upaya mengumpulkan petani, kini bukan hal yang cukup mudah untuk ditempuh. Kalau saja pulang nya tidak diberi ‘amplop” biasa nya banyak yang menggerutu. Mereka minta pengganti uang transpor. Inilah barangkali dampak nyata dari kegiatan proyek Pemerintah yang dalam pelaksanaan nya selalu menyiapkan uang transpor bagi kelompok tani atau gapoktan atas kegiatan yang dilaksanakan nya.

Gebyar Budaya Tani yang diinisiasi oleh Paguyuban Seniman dan Budayawan Bandung, pada dasar nya merupakan langkah yang cukup baik untuk dikembangkan lebih lanjut. Para petani di lapangan, tampak sudah bosan dengan seabreg teori. Petani butuh realisasi dari wacana yang berkembang. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan H Nono Sambas, tokoh KTNA Kabupaten Bandung, petani butuh bukti dan sedapat mungkin mesti jadi tuan di atas sawah nya sendiri. (*Entang Sastraatmadja).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close