#iniruangkuHeadLine

Pangan Jelang “NATARU”

Mediatataruang.com – Perbincangan tentang perlu nya ketersediaan bahan pangan yang cukup dan stabilisasi harga pangan di berbagai tingkatan, menjelang Hari-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti Hari Natal dan Tahun Baru (NATARU), rupa nya sudah menjadi konsumsi publik di berbagai kesempatan. Pemerintah hampir setiap tahun menggelar Rapat Koordinasi. Pertanyaan kritis nya adalah apakah pelaksanaan Rapat Koordinasi ini sebagai sebuah cara untuk mencari solusi atau hanya sebagai gugur kewajiban ?

Semua pihak yang punya kaitan dengan persoalan diatas, selalu diajak bicara. Pemerintah berkeyakinan, para pedagang merupakan komponen yang sangat penting dalam merumuskan solusi terbaik nya. Itu sebab nya pada saat Rapat Koordinasi digelar, upaya untuk menyamakan data merupakan hal yang perlu diprioritaskan untuk dilakukan.

Data yang akurat dan akuntabel, menjadi syarat utama dalam ketersediaan pangan. Selama kita tidak memiliki data yang berkualitas, akan sukar bagi kita untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat. Pengalaman selama ini, menjelang HBKN berbagai bahan pangan pokok cenderung akan meroket. Terlebih-lebih pada saat mendekati Hari Lebaran.

Namun demikian, dengan ada nya bencana Covid 19, boleh jadi kondisi semacam itu bakal mengalami perubahan. Yang berubah bukan hanya perilaku (sikap, tindakan dan wawasan) masyarakat terhadap pola konsumsi nya, namun bila dilihat dari kemampuan daya beli pun akan mengalami perubaha. Dua tahun lalu, di awal Covid 19 menyergap kehidupan, kita tidak terlalu merasakan dampak nyata nya. Saat itu, daya beli masyarakat masih kuat.

Masyarakat pun masih mampu membeli bahan pangan pokok nya menjelang Hari Lebaran. Tetapi sekarang, di saat pandemi covid 19 sudah hampir dua tahun kita rasakan, ternyata suasana nya menjadi berbeda. Daya beli masyarakat tampak melemah. Dampak covid 19 yang paling nyata, terasa dalam dunia ketenaga-kerjaan.

Banyak karyawan swasta yang “diliburkan”. Ada juga yang diberhentikan. Ada yang dirumahkan. Semua ini, tentu berdampak terhadap daya beli mereka. Jika daya beli menurun, kemungkinan mereka tidak akan mampu membeli banyak bahan pangan. Kalau pun mampu, mereka hanya membeli ala kadar nya. Berbeda ketika masyarakat masih memiliki daya beli yang tinggi.

Inilah yang perlu diantisipasi secermat mungkin, agar upaya memantapkan ketersediaan bahan pangan di waktu HBKN bisa diukur secara lebih baik lagi. Keseimbangan pasokan dengan kemampuan daya beli masyarakat, penting dianalisa dengan baik. Jangan sampai ada salah satu pihak yang dirugikan. Yang pasti para produsen perlu membaca pasar dengan kondisi daya beli rakyat yang makin melemah.

Hal lain yang perlu dicermati adalah soal merangkak nya harga berbagai bahan psngan pokok menjelang tiba nya HBKN. Walau hal ini sudah menjadi “kebiasaan” seriap tahun, namun ke depan sebaik nya Pemerintah tidak terus-terusan menjadi pemadam kebakaran. Pemerintah mesti nya mampu merancang pendekatan “deteksi dini”, sehingga kita sudah mengenali apa yang bakal terjadi.

Pola ini memang kurang diminati oleh para penganbil kebijakan di negeri ini. Mereka lebih suka memainkan petan sebagai pemadam kebakaran. Kita sendiri tidak tahu persis mengapa Pemeruntah di setiap tingkatan kurang berkenan untuk melahirkan langkah deteksi dini. Padahal kalau hal ini dapat diwujudkan, maka boleh jadi, kita tidak penting lagi melakukan rapat koordinasi.

Langkah konkrit Pemerintah untuk menciptakan harga yang wajar, sebaik nya kita mintakan. Pemerintah tetap harus mempertimbangkan dua sisi yang terlibat di dalam nya. Pertama adalah para produsen bahan pangan, yang sering juga disebut sebagai pelaku utama. Kedua adalah para konsumen yang berada di perdesaan atau pun perkotaan.

Harga yang terjadi di pasar, sangat tidak diharapkan merugikan para produsen. Tingkat harga yang terjadi, jangan sampai tidak menutupi ongkos produksi. Perhitungan yang cermat akan biaya usahatani, menjadi salah satu faktor penting dalam penetapan harga ini. Yang penting dicatat adalah bagaimana cara nya agar petani, peternak, pembudi-daya ikan, pekebun, petani hutan, petani horti, tetap harus kita hormati dalam melakukan usahatani nme.

Jerih payah dan kerja keras mereka, perlu dijawab dengan penetapan harga jual yang wajar. Jangan sampai mereka dirugikan karena ada nya permainan harga pasar oleh para tengkulak yang hanya ingin mengejar keuntungan sesaat. Kalau pun hingga sekarang masih ada fenomena yang semacam itu di lapangan, maka menjadi tugas kita bersama untuk membenahi nya.

Selain pelaku utama, kita juga perlu memahami kondisi konsumen yang saat ini ditengarai tengah prihatin karena ada nya pandemi covid 19. Konsumen pasti akan dihadapkan pada daya beli yang melorot. Banyak diantara mereka yang jadi korban perusahaan, karena tidak mampu lagi menggaji nya. Mereka pun menjadi penganggur. Seiring dengan tenggang waktu pandemi covid 19, maka mereka pun akan semakin sulit menyambung nyawa.

Satu hal yang perlu jadi pemikiran bersama adalah bagaimana dengan posisi pedagang, yang dalam tata niaga pangan ini cukup penting. Mereka inilah yang seringkali menjadi penentu harga. Peran Pemerintah dalam melakukan pembinaan terhadap pedagang, menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan harga yang wajar. Prinsip utama nya adalah petani jangan rugi. Begitu pun dengan pedagang. Tapi tidak membebani para konsumen.

Melahirkan sistem deteksi dini (early warning system) tentang HKBN tentu harus didasari oleh niatan agar kita tidak terus menerus melakukan jurus pemadam kebakaran. Sangat memalukan jika setiap menjelang HBKN para pihak yang terkait dengan urusan ini harus selalu melaksanakan Rapat Koordinasi.

Walau tidak jelas apa yang dikoordinasikan, namun sebagai langkah selaku Pemadam Kebakaran, hal tersebut sah-sah saja untuk ditempuh. Pertanyaan nya adalah bagaimana kalau Rapat Koordinasi ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Sistem Deteksi Dini ? Inilah yang penting di dalami lebih lanjut. (*Entang Sastraatmadja).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close