#iniruangkuHeadLine

Holding BUMN Pangan

Mediatataruang.com – Akta Penggabungan enam BUMN Pangan yang tergabung dalam BUMN Klaster Pangan telah ditandatangani. Melalui penandatanganan Akta Penggabungan tersebut, telah dilaksanakan penggabungan PT Bhanda Ghara Reksa ke dalam PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, penggabungan PT Perikanan Nusantara ke dalam PT Perikanan Indonesia dan penggabungan PT Pertani ke dalam PT Sang Hyang Seri.

Wakil Menteri BUMN I, Pahala N. Mansury mengatakan bahwa penggabungan BUMN ini merupakan momentum penting dalam rangka menuju holding BUMN Pangan. Di mana salah satu proses menuju holding pangan adalah merger dari enam BUMN Pangan menjadi 3 BUMN Pangan
Tujuan dari pembentukan holding pangan melalui fase penggabungan BUMN Pangan ini adalah untuk meningkatkan inklusivitas, melakukan pemberdayaan nelayan, petani dan juga para peternak.

Untuk itu, banyak pihak berharap bahwa market share dari BUMN pangan di masing-masing komoditas pangan akan beroperasi, dengan adanya peningkatan produktivitas dan juga peningkatan kemampuan untuk bisa meningkatkan kompetitif pangsa pasarnya. Catatan kritis yang dapat disampaikan adalah apakah keinginan yang sangat ideal sebagaimana digambarkan Wamen BUMN tersebut bakal mampu dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari ?

Optimis memang tidak dilarang, malah sangat dianjurkan dalam melakoni krhidupan. Namun, perlu diingat, optimisme itu mestilah realistik. Ini penting jadi catatan. Sebab, kalau optimistik ini identik dengan mengecat langit, sampai dunia kiamat pun fakta yang diharapkan tidak mungkin akan terwujud. Justru yang perlu kita lakukan adalah optimistik yang menapak bumi, yang memiliki pengertian hasil nya langsung dapat dinikmati.

Dengan demikian, setelah dilakukan nya penggabungan dari beberapa BUMN Pangan diatas, tentu kita berharap hal ini bukan cuma halusinasi dari beberapa orang para penentu kebijakan di jajaran BUMN, tapi akan benar-benar dapat diwujudkan sesuai dengan semangat nya. Holding BUMN merupakan upaya percepatan peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan.

Oleh karena nya, tidak terlampau berlebihan, bila yang menjadi tugas pertama untuk digarap adalah sampai sejauh mana kemampuan kita dalam menyehatkan holding BUMN Pangan itu sendiri. Muncul nya indikasi BUMN di negeri ini terkesan sedang sakit parah, seharus nya menjadi fokus perhatian terlebih dahulu, ketimbang berpikir hal-hal yang berbau bisnis.

BUMN perlu direvitalisasi terlebih dahulu. BUMN perlu darah baru. Bahkan BUMN pun penting untuk dikembalikan kepada cita-cita kelahiran nya. Langkah Menteri BUMN Erik Thohir yang begitu serius ingin membenahi BUMN agar tampil menjadi bangun usaha yang tangguh, tentu perlu didukung dengan sepenuh hati. Langkah menggabungkan BUMN dinilai sebagai upaya nyata untuk mengefesienkan dan mengefektipkan kiprah BUMN.

Begitu pun dengan penetapan Dewan Direksi dan Dewan Pengawas/Komisaris yang lebih profesional. Kita memang butuh BUMN yang sehat, kuat dan profesional. Tanpa ada nya pengelola yang handal, sangat tidak mungkin, kita bakal melahirkan BUMN yang diimpikan. Sekali pun pernah muncul suara sumbang soal pengangkatan Komisaris yang dinilai kurang pantas untuk menduduki posisi tersebut, namun dibandingkan dengan penetapan Komisaris yang pas di posisi nya, masih lebih banyak yang pas nya dari pada yang tidak nya.

Kembali ke holding BUMN Pangan. Sebagaimana yang kita kenali bersama, pangan merupakan kebutuhan utama bagi setiap bangsa yang menjadikan bahan pangan sebagai konsumsi masyarakat nya. Pangan adalah persoalan mati hidup nya suatu bangsa. Oleh karena nya, kita tidak boleh main-main dalam mengelola pembangunan pangan. Kita harus sungguh-sungguh dalam menyiapkan strategi, kebijakan, program dan kegiatan tentang pangan.

Holding BUMN Pangan pada hakekat nya merupakan bangun usaha pangan yang diharapkan mampu memberi dukungan nyata akan pemberian kemudahan kepada masyarakat untuk mendapatkan pelayanan psngan yang baik. BUMN benih sekaliber PT Syanghiang Sri, mesti nya dapat menghasilkan benih yang berkualitas dan terterapkan dalam kehidupan petani di lapangan. Sebagai BUMN, PT Syanghiang Sri, tetap dituntut untuk dapat melakukan fungsi sosial dan fungsi bisnis secara berbarengan.

Hal yang tidak jauh berbeda, sepantas nya BUMN yang bergerak di bidang pupuk yang sejak beberapa waktu lalu telah membentuk Holding Pupuk, mampu menjelmakan tata kelola pupuk bersubsidi secara lebih baik lagi. Petani, pasti akan kecewa berat bila setelah menhadi holding, ternyata di lapangan kita masih mendengar ada nya kelangkaan pupuk bersubsidi di saat musim tanam tiba. Kalau pun ada, harga nya relatif mahal.

Dibentuk nya Holding BUMN Benih dan Holding BUMN Pupuk, sesuai dengan semangat nya, seharus nya mampu membantu petani secara nyata. Produksi dan produktivitas yang meningkat, dimintakan akan mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara signifikan. Masalah nya apakan betul para petani lebih sejahtera ? Rasa nya belum juga. Petani tetap terseok-seok dalam mengarungi kehidupan nya. Coba tengok Nilai Tukar Petani yang selama ini dijadikan satu-satu nya ukuran untuk melihat kesejahteraan petani.

Soal kesejahteraan petani, terbukti tidak cukup ditentukan oleh peningkatan produksi dan produktivitas hasil pertanian, namun yang tak kalah penting nya untuk dicermati adalah bagaimana pemasaran, distribusi dan harga jual hasil pertanian tersebut di pasaran. Hal ini penting dipahami, karena kesejahteraan petani adalah sebuah proses kesisteman mulai hulu hingga hilir. Holdin BUMN Pangan sendiri lebih mengedepan di sisi hulu, sedangkan di hilir nya kurang digarap secara serius.

Nilai Tukar Petani, khusus nya petani padi, tampak seperti yang jalan ditempat. Naik turun selalu mewarnai angka NTP yang diumumkan Badan Pusat Statistik. Kisaran indeks 97 hingga 105, memberi gambaran, petani padi di negeri ini, belum layak dikatakan sejahtera. Betapa tidak ? Sebab, apalah arti nya angka 5 % dalam kehidupan petani di tengah persaingan ekonomi yang ketat. Pandemi covid 19 adalah salah satu contoh masalah kehidupan yang tidak mudah untuk dihadapi petani

Sekurang-kurang nya, angka NTP padi berada di indeks 120. Arti nya, kenaikan indeks 20 dapat menggambarkan rasio pendapatan petani dengan pengeluaran petani dapat dikatakan cukup memadai, sehingga nilai tambah ekonomi dapat dirasakan para petani padi. Catatan kritis yang dapat disampaikan adalah mengapa Pemerintah hingha kini masih belum msmpu mewujydkan nya ? Pasti ada yang keliru dalam tata kelola pembangunan pertanian kita. Sebab, bila kita cermati potensi dan kapasitas sumber daya pertanian kita, keinginan seperti itu, harus nya dapat diwujudkan.

Pertanyaan penting nya adalah apakah dengan dibentuk nya Holding BUMN Pangan masalah serius dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani bakal cepat terwujud ? Ataukah tidak, karena soal petani hidup sejahtera, tidak mungkin terselesaikan hanya oleh BUMN Pangan semata. Tapi, membutuhkan sinergi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Kita tentu memerlukan jawaban jujur. Bukan hanya jawaban yang sifat nya Asal Bapak Senang. Sebab, senang nya Bapak, belum tentu senang nya masyarakat. (*Entang Sastaatmadja).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close