#iniruangkuHeadLine

Petani Milenial, Bukan Solusi

Mediatataruang.com – Dalam sebuah diskusi ringan terkait dengan pembangunan petani di Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat muncul pertanyaan : apakah betul Program Petani Milenial yang digelindingkan Pemprov Jawa Barat akan mampu menyelesaikan masalah alih generasi dalam dunia kepetanian di negeri ini ?

Pertanyaan tersebut, tentu saja memancing para peserta diskusi untuk menyampaikan gagasan dan pemikiran cerdas nya. Rata-rata peserta diskusi menyangsikan Program Petani Milenial akan mampu menjadi solusi untuk regenerasi petani. Di mata salah seorang peserta diskusi, Program Petani Milenial lebih mengedepan sebagai pencitraan ketimbang program yang terterapkan di lapangan.

Salah satu alasan, mengapa Program Petani Milenial tidak akan mampu menjadi solusi regenerasi petani, karena ketidak-utuhan Program Petani Milenial dalam desain perencanaan nya. Hal ini penting kita cermati, mengingat istilah Milenial sendiri, sangatlah kurang cocok digunakan sebagai ikon dalam kehidupan petani. Menyikapi hal yang demikian, peserta diskusi lebih memilih menggunakan sebutan Petani Muda ketimbang Petani Milenial. Suka atau tidak, begitulah aspirasi yang muncul dalam diskusi ringan tersebut.

Begitulah sedikit catatan dari diskusi yang dilakukan di kaki Gunung Papandayan, Garut. Peserta diskusi betul-betul merisaukan potret petani, khusus nya petani padi di masa mendatang. Mereka risau, karena para petani yang sering dijumpai di sawah, rata-rata sudah berusia di atas 50 tahun.

Sedangkan hampir tidak pernah dijumpai kaum muda yang bercocok tanam di sawah ladang. Catatan kritis nya adalah kalau saat ini diperoleh kabar, kaum muda perdesaan sudah tidak ada yang berminat untuk jadi petani, lalu siapa yang akan menggantikan para petani yang hari ini rata-rata sudah tidak muda lagi ?

Inilah sebetul nya masalah pelik dan serius. Soal regenerasi petani, semesti nya mendapat prioritas untuk ditangani dengan sungguh-sungguh. Pemerintah, perlu menjadikan regenerasi petani sebagai isu utama yang butuh penanganan sesegera mungkin. Pemerintah tidak boleh menunda nya.

Para perencana pembangunan, perlu memiliki “good will” untuk memasukan isu regenerasi petani ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun mendatang, baik di tataran Nasional atau pun Daerah. Acuan inilah yang akan dijadikan dasar dalam penetapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 5 Tahunan dan Rencana Kerja Pembangunan Tahunan nya, baik APBN mau pun APBD.

Lahir nya Program Petani Milenial yang dijagokan oleh Pemerintah untuk mensolusikan regenerasi petani, kelihatan nya membutuhkan pencermatan yang lebih dalam kagi. Dari sisi kuantitas misal nya, ada berapa sih jumlah nya petani milenial yang memahami betul soal budaya tani di negeri ini ?

Apakah para Petani Milenial memiliki pengalaman bertani sebagaimana lazim nya para petani yang saat ini rela dan ikhlas untuk berpanas-panasan di bawah terik sinar matahari ? Adakah yang bisa menjamin niat Petani Milenial untuk berkiprah menjadi petani itu dikarenakan panggilan jiwa yang tulus dan muncul dari nurani terdalam nya ?

Atauhkah tidak, Petani Milenial ini hanya sekedar mengisi waktu dan batu loncatan untuk memperoleh lapangan pekerjaan yang selama ini mereka idam-idamkan ? Arti nya, kalau diantara mereka itu ada yang ditetima jadi Aparat Sipil Negara atau diterima di perusahaan swasta besar, maka dengan gampang nya mereka akan meninggalkan pekerjaan sebagai Petani Milenial.

Ini sebetul nya yang memprihatinkan kita bersama. Di satu sisi, kita bangga dengan banyak nya kaum muda yang berkiprah menjadi Petani Milenial, namun di sisi lain, kita saksikan juga banyak nya Petani Milenial yang tidak menekuni sepenuh hati akan status nya sebagai Petani Milenial itu sendiri.

Upaya melahirkan generasi baru petani yang menghayati budaya tani, bukanlah hal yang cukup mudah untuk diwujudkan. Disini tentu saja sangat dibutuhkan ada nya pewarisan nilai dari petani masa kini ke petani masa datang. Yang penting jadi percik permenungan bersama adalah apa jadi nya jika para orang tua yang hingga kini berprofesi sebagai petani, melarang anak-anak nya untuk jadi petani ?

Terbayang, bagaimana dengan para orang tua yang sekarang menjadi Pejabat Pemerintah, apakah mereka akan menganjurkan anak-anak nya untuk jadi petani ? Apakah para orang tua yang kini tercatat sebagai konglomerat atau Saudagar Besar akan meminta anak-anak nya untuk jadi petani ? Rasa-rasa nya tidak.

Mereka pasti akan meminta anak-anak nya untul mencari pekerjaan yang bukan petani. Ada beberapa pertimbangan, mengapa profesi petani sekarang seperti yang tidak diminati ? Salah satu argumentasi nya, karena profesi petani padi sendiri identik dengan kemiskinan. Apalagi jika lahan sawah yang digarap nya hanya 0,25 hektar.

Dengan potret petani padi yang seperti ini, wajar-wajar saja bila tidak ada kaum muda yang berhasrat untuk menggeluti nya. Kaum muda lebih memilih menjadi tukang ojek atau bekerja sebagai buruh harian lepas di perkotaan. Ini jelas, sebuah pilihan logis yang dilakukan oleh kaum muda yang mendambakan kehidupan yang lebih baik.

Solusi konkrit untuk mengatasi hal yang demikian adalah Pemerintah perlu melahirkan sebuah “jaminan” bahwa berkiprah menjadi petani tidaklah bakalan hidup miskin, namun akan dapat hidup sejahtera dan bahagia. Pertanyaan nya adalah adakah kesungguhan Pemerintah untuk membuat jaminan tersebut ? Hal inilah yang kita tunggu kehadiran nya. Yang jelas, Petani Milenial, bukan solusi regenerasi petani jangka panjang. (*Entang Sastraatmadja).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close