#iniruangkuHeadLine

Selamatkan Food Estate

Mediatataruang.com – Belum lama ini, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyebutkan Food Estate menjadi salah satu program pemerintah guna memastikan ketahanan pangan Indonesia. Kepastian ini sangat dibutuhkan agar ramalan FAO paska pandemik Covid 19 warga dunia akan dilanfa krisis pangan, bangsa kita sudah siap sedia menghadapi nya.

Hal ini penting dicatat, karena pengelolaan ketahanan pangan tidak boleh main-main, mengingat pangan merupakan mati hidup nya suatu bangsa. Kita harus menggarap nya secara sungguh-sungguh, sebab sekali nya kita teledor dalam menskenariokan pembangunan pangan, maka kita bisa saja akan dihadapkan pada bencana kelaparan yang mengerikan.

Selain itu, kita juga telah sepakat, pada saat ulang tahun 100 tahun Indonesia merdeka, kita ingin memberi kado ulang tahun kepada Ibu Pertiwi, dengan menjadikan Tanah Merdeka ini sebagai Lumbung Pangan Dunia. Program Food Estate ini dilaksanakan melalui intensifikasi pertanian, persiapan dan pengalihan alih fungsi lahan serta mendorong modernitas pertanian.

Sayang, dalam perjalanan nya program Food Estate ini banyak mengalami gugatan. Bukan saja ditengarai perencanaan nya yang terburu-buru, namun dilihat dari pelaksanaan di lapangan nya pun seperti yang hanya menggugurkan kewajiban semata. Food Estate pun lebih mengedepan aura politik nya ketimbang teknokratik nya. Padahal sebagai konsep masa depan Food Estate menjadi ukuran dalam menilai ketangguhan ketahanan pangan.

Langkah pengembangan Food Estate ini, salah satu nya mendapat kritik keras dari seorang Guru Besar IPB. Prof. Dwi Andreas Sentosa menyebut potensi kegagalan proyek yang diharapkan menjadi jawaban dari ancaman krisis pangan tersebut, dikarenakan tidak memenuhi empat pilar yang mesti dimiliki proyek pangan skala besar. Ke empat pilar tersebut adalah :

Pertama, proyek itu dinilai tak memenuhi kesesuaian tanah untuk menjadi lahan tanam. Selain itu, belum juga proyek dimulai, di ranah publik, sudah banyak polemik yang menghiasi kehidupan, seperti pelanggaran kepemilikan tanah adat. Banyak pihak mewanti-wanti agar pengalaman Orde Baru kewat kebijakan 1 juta hektar lahan gambut, berujung dengan kegagalan.

Kedua, infrastruktur pertanian di lahan food estate tak sesuai. Irigasi dan jalan sarana prasarana di beberapa lokasi yang dijadikan lahan tanam tidak memenuhi kriteria layak. Petani untuk bisa mentransfer produknya ke luar wilayah produksi, terkesan sulit. Diri nya mengklaim, telah beberapa kali dilakukan percobaan tanam di lokasi berbeda dan sejauh ini percobaan masih menemui jalan buntu gagal tanam. Kalau infrastrukturnya setengah-setengah jangan kira-kira lah, pasti gagal.

Ketiga, varietas yang ditanam kurang cocok dengan lahan tanam dan teknologi yang dimiliki pun masih minim. Belum lagi soal ketersediaan pupuk. Padahal, dalam pembangunan pertanian, varietas yang unggul akan menentukan keberhasilan produksi. Begitu pun dengan ketepatan penggunaan pupuk. Dalam hal ini, kehadiran Penyuluh Pertanian yang berkualitas, betul-betul sangat dibutuhkan.

Keempat, syarat agar food estate bisa berhasil adalah produktivitas gabah yang dihasilkan. Persyaratan nya, setiap hektar lahan harus mampu menghasilkan minimal 4 ton gabah. Sementara, saat ini, gabah yang bisa dihasilkan hanya 1 ton per hektare. Lalu, dimana sebetul nya yang jadi titik lemah pengelolaan Food Estate itu sendiri ?

Proyek food estate yang dilakukan selama ini, tidak ada yang mencapai itu. Dwi Andreas menyatakan uji coba kami saja hanya 1 ton per hektare, padahal didampingi doktor dan profesor. Untuk itu penting dicarikan jawaban nya kenapa hal itu bisa terjadi. Food Estate segera harus diselamatkan. Selain itu, sesegera mungkin, Pemerintah perlu mempertimbangkan lagi program yang telah digelindingkan nya itu. Boleh jadi perlu revitalisasi, baik dari sisi perencanaan, pelaksansan mau pun monitoring dan evaluasi nya.

Kritik yang diutarakan Guru Besar IPB diatas, sudah seharus nya mampu dijadikan bahan pertimbangan guna lebih menyempurnakan berbagai kekurangan program Food Estate. Bila kita akan melakukan revitalisasi Food Estate, tentu dibutuhkan “darah baru” (giving a new life) guna membangun Food Estate ke arah yang diimpikan. Pertanyaan besar nya adalah “darah baru” yang bagaimana yang harus kita berikan ?

Sebagai bangsa dan negeri yang memiliki potensi dan kapasitas untuk meraih predikat Lumbung Pangan Dunia, program pengembangan Food Estate, merupakan kebijakan yang cukup tepat untuk digarap dan dijadikan prioritas dalam upaya memperkokoh ketahanan pangan. Masih terbentang nya lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal, membuat kita harus berjuang keras agar lahan tersebut dapat diolah sehingga mampu memberi keberkahan bagi kehidupan.

Food Estate adalah solusi cerdas untuk “membumikan” harapan tersebut. Justru yang menarik kita diskusikan, kebijakan dan program Food Estate seperti apa yang harus dikembangkan, sehingga dapat memenuhi keinginan yang diimpikan itu ? Mencermati kritik Guru Besar IPB diatas, rupa nya Food Estate yang selama ini dikembangkan, belumlah memenuhi harapan yang diinginkan. Dari kritik tersebut jelas terlihat ada nya beberapa titik lemah yang perlu disempurnakan.

Satu hal yang penting kita akui, Food Estate yang dilakukan di Kalimantan Tengah misal nya, menurut informasi, hasil nya tidak sesuai dengan yang diharapkan, boleh jadi disebabkan oleh lemah nya perencanaan. Pola dan pendekatan perencanaan teknokratik, partisipatif dan top down-bottom up seperti yang terkalahkan oleh kepentingan politik. Kesan terburu-buru pun banyak disorot banyak pihak.

Tidak sedikit juga orang yang cari kesempatan diatas kesempitan. Banyak pejabat yang ingin terpotret oleh Presiden Jokowi. Namun mereka lupa, dibalik semua nya itu ada hal yang lebih pentung untuk dilakukan. Sebut saja terkait dengan perencanaan yang berkualitas. Sekalipun koordinasi telah dilakukan, khusus nya koordinasi perencanaan, namun yang mengemuka ke ranah publik, ternyata semua nya itu digarap hanya untuk mengejar target bukan kualitas yang terbaik.

Kini akar masalah nya sudah tergambarkan. Kalau sekarang banyak terdengar suara sumbang terhadap Food Estate, tentu tidak boleh dibiarkan menjadi perdebatan yang tidak produktif. Food Estate adalah program kita bersama yang salah satu semangat nya untuk memperkuat Ketahanan Pangan. Itu sebab nya, menjadi tugas dan tanggyngjawab bersama untuk menangani nya. Mari kita selamatkan program Food Estate. (*Entang Sastraatmadja).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close