“Ajap betol kami nie. Hutan tanah dikebas cukong konglomerat, kearifan lokal tanah ulayat lenyap anak kemanak hidup melarat. Mencari ikan sungai kandas yang ade “buaye darat”. Nak keje perusahaan tak ade sertifikat. Lamo lamo hidup merempat (miskin papa). Mencari telouw tembakol, hanye buntal yang dapat. Ape nak buat.
Untung Kejagung menolong rakyat. Kalau tak, hancur masa depan cucu mengumpat, ” pungkas peneliti gambut yang rutin gundul demi hutan adat.*





